Terdengar suara
gemercik air dibalik jendela kamar, aku mulai mencoba lebih mendekat untuk melihat
suasana di sekitar pekarangan rumah. Hujan
gerimis sejak beberapa jam lalu ini sudah membasahi semua yang tidak memiliki
atap seperti tumbuhan, tanah, batu, dan tak terkecuali seorang wanita yang baru
saja membuka gerbang rumah dengan keadaan basah kuyup dan terlihat sangat
kedinginan. Ia mulai berjalan menghampiri pintu rumah untuk bisa segera masuk
dan menyelamatkan diri dari angin yang sangat kencang, hingga berhasil
mengibar-ngibarkan hijab yang ia kenakan saat itu. Aku yang pada saat itu juga serontak berlari
ketempat yang sama, bertujuan ingin menggapai gagang pintu lebih dulu agar bisa
menyambut kedatanganya dengan sekedar membukakan pintu, tapi kali ini aku
terlambat. Wanita itu mulai masuk ke dalam sambil mengucap salam dengan nada lirih,
ketika itu juga ia mendapati diriku yang sedang berdiri beberapa langkah dari
tempat ia berada. Terlihat sebuah
senyuman menyejukan yang terpancar dibalik kelelahan yang tampak jelas terlihat diwajahnya. Kubalas senyuman itu sambil bejalan menuju
kursi untuk duduk.
Tiba-tiba aku
teringat beberapa saat lalu, ketika keadaan terjadi sebaliknya aku yang datang
ketika wanita itu sudah dirumah, ia selalu menyambutku dengan membukakan gerbang
walau hujan besar sekalipun tanpa terlambat. Lalu bagaimana dengan aku yang
hanya ingin membukakan pintu dari dalam rumah saja tidak berhasil karena ia
lebih dulu membukanya. Ketika aku masuk sudah tersedia makanan dan handuk untuk
mengeringkan badanku yang basah sehingga aku merasa lebih baik, lalu sekarang
apa yang sudah aku siapkan untuknya. Pandanganku tidak pernah lepas memperhatikan
sosok wanita itu yang sejak pulang tadi begitu sigap melakukan berbagai hal, tanpa mengistirahatkan raganya yang sangat lelah itu terlebih dulu.
Aku berjalan
menghampirinya ke arah dapur, ia mulai menyadari kedatanganku saat itu.
“Aku belum
menyiapkan apapun untuk bisa kau makan, tapi tunggu beberapa saat ya!” ujar wanita
itu tanpa menoleh ke arahku dengan tanganya yang berkerja dengan sangat cekatan membuat
beberapa masakan.
Aku
memperhatikan apa yang ia kerjakan lebih dekat, “Aku belum terlalu lapar jadi
tak usah terburu-buru menyiapkanya”.
“Kehujanan?”
“Tidak! Aku sampai
rumah sebelum hujan turun.”
“Syukurlah,bisa
sakit kalau kehujanan!” ujar wanita itu sambil tersenyum ke arahku.
Aku mulai membuka
mukena yang dikenakan seusai shalat dan memanjatkan beberapa doa yang sangat
singkat, lalu aku keluar dari kamar untuk mengambil air minum yang sejak lama
dibutuhkan karena merasa haus. Terlihat pintu kamar yang terbuka disebrang
pintu kamarku, kudapati wanita itu sedang duduk berlama-lama menghadap kiblat
dengan mengenakan mukena dan tanganya yang terbuka sejajar dengan dada,
sesekali aku melihat butiran air mata mulai terjatuh mengalir membasahi kedua pipinya. Dadaku
mulai bergetar melihatnya, sebenarnya apa yang sedang ia pinta kepada sang Pencipta
dan siapakah seseorang yang sangat beruntung karena selalu mendapatkan doa dari wanita
suci didepanku ini. Beberapa lama aku terpatung melihatnya terkadang air mataku
seakan ingin ikut menetes, tampaknya ia mulai menutup doanya dan membuka
mukena yang ia kenakan.
Aku mulai pergi
menjauh menuju kamarku tanpa menutup pintu, kubuka beberapa buku dengan niatan
akan belajar. Tapi pikiranku masih tetap pada wanita yang sedang berdoa tadi. Hatiku
mulai merasa dan sadar bahwa mungkin diriku yang selalu ia doakan. Setiap kali seusai
shalat dalam skala lima waktu dalam sehari, namaku tidak pernah luput ia sebut dalam setiap doanya. Lalu bagaimana dengan aku, biasanya aku hanya ingin cepat
untuk beranjak seusai shalat dengan sengaja melupakan kewajibanku untuk selalu
mendoakan wanita itu.
“Belajar?”,
wanita itu masuk ke dalam kamarku dengan membawa beberapa pakaian yang akan
segera ia masukan ke dalam lemari.
Aku
meperhatikan tubuhnya yang mulai tidak sekuat beberapa tahun lalu, ketika aku
masih kecil dan belum bisa melakukan apapun sendirian. Kini mulai terlihat
beberapa kerutan dekat ujung mata dan pipinya saat tersenyum kepadaku. Terlihat
pula sangat jelas beberapa urat biru melintang di punggung tanganya saat ia
sedang merapikan beberapa baju. Tangan yang dulu selalu menggendong, menyuapi,
dan melindungku itu sampai saat ini masih bekerja untuku, terkadang terdengar
keluhanya saat wanita itu mulai merasakan sakit dan ngilu pada tanganya yang
mulai lecet. Tapi apa yang bisa aku lakukan saat itu entahlah aku terlalu
pasif untuk memperlihatkan kepedulianku terhadapnya.
Selama ini
sangat banyak kejadian yang aku lewati dengan wanita itu. Tidak hanya kejadian
manis tapi terkadang perselisihan dan amarah pun ikut mewarnai hubungan kami
selama ini. Aku sering melakukan kesalahan yang membuat ia jengkel terhadapku,
wanita itu marah dan menasehatiku dengan beberapa kata yang sulit untuk aku
terima dan pahami. Entahlah aku tidak pernah mengerti maksud amarahnya itu
adalah cerminan dari kecemasanya, bukan bermaksud sebal atau benci kepadaku. Aku sering
salah mentafsirkan semua perlakuanya yang terkadang teramat berlebihan
kepadaku, sebenarnya itu tanda kalau cinta dan sayangnya pun teramat berlebihan juga.
Begitu banyak
sekali yang tidak aku tau tentang wanita itu, tapi ia begitu tau apapun seluk
beluk tentang diriku. Ia mengetahui betul saat perasaanku sedang sedih
atau senang, sebenarnya ia sangat beranutusias mendengarkkan ceritaku jika memang
aku mau untuk bercerita kepadanya. Tapi yang sering aku lakukan hanya berdiam
diri dikamar saat perasaanku sedang sedih dan membiarkanya khawatir
terhadap diriku.
Aku hanya terdiam sambil menatap kearah langit-langit kamar dan mulai bertanya dalam hati, "Kapan aku menemaninya saat ia sakit? Bukankah tidak pernah?"
Tak lama kemudian aku menoleh untuk melihat wanita disebelahku itu, tampaknya ia sudah kembali tertidur. Wajahnya terlihat sangat damai dan mulai tenggelam dalam kenyamanan, bibirnya terlihat seperti sedang tersenyum, mungkin ia sedang bermimpi indah. Mataku pun mulai berat seolah ingin segera menyusul pergi ke dalam mimpi indah wanita itu, sebelum tidur aku berdoa :
Ya Tuhan aku belum siap dan tidak akan pernah siap untuk kehilangannya. Aku mohon berikan kesempatan waktu yang sangat lama untuk wanita ini bisa menemaniku, sampai aku bisa memberi sedikit kebahagiaan untuknya dengan memperlihatkan keberhasilan yang aku capai berkat doanya dan usahaku selama ini.
Beberapa lama
aku terdiam didepan meja belajarku tanpa melakukan hal apapun. Sudah larut
malam biasanya ayahku akan pulang beberapa menit lagi. Kucoba untuk melihat apa
yang sedang wanita itu lakukan sekarang di dalam kamarnya, perlahan-lahan aku
membuka pintu kamar dan disitu juga aku mulai mendapati dirinya sudah terbaring
dibagian sebelah kiri ranjang. Kumulai mendekat dengan langkah yang
mengendap-ngendap karena tak ingin membuatnya terbangun. Mungkin wanita itu
sangat lelah sehingga ia tidak menyadari sama sekali kedatanganku yang saat ini
sudah berada tepat disebelahnya.
Kumenatap wajahnya
yang sudah tak asing lagi bagiku di usianya yang sudah tidak muda lagi, harus kuakui
wanita ini masih terlihat sangat cantik dengan tulang rahang dan pipi yang
terlihat jelas, serta bentuk wajahnya yang ouval. Tubuhnya yang kurus dan kakinya
yang jenjang membuatku semakin merasa bersalah, selama ini aku tidak pernah
membantunya melakukan hal yang biasa ia lakukan dirumah. Tiba-tiba terdengar
suara petir yang membuat wanita disebelahku terbangun dan menyadari aku sudah
ada disebelahnya.
“Sudah
belajarnya?”
“Sudah!” jawabku
dengan wajah yang canggung karena masih merasa bersalah terhadapnya.
“Takut petir ya?
Makanya kesini, malam ini kita tidur dikamarmu, bagaimana?”
Aku hanya
mengangguk pelan dengan tersenyum menatap wajahnya, biasanya aku sering menolak
saat ia ingin tidur bersamaku tapi kali ini entah kenapa aku ingin sekali
bersamanya.
Pikiranku mulai jauh dan tertuju pada suatu kejadian yang paling menakutkan. Aku tidak bisa membayangkan jika wanita disebelahku ini sudah tidak bisa lagi meneman,i saat aku merasa ketakutan ketika ada petir atau hal buruk lainya.
Kini kita telah berada di dalam kamarku berbaring sebelahan diatas satu ranjang.
"Kapan terakhir kita tidur bersama seperti ini?" wanita itu mulai mencoba membuka percakapan.
"Mungkin saat aku sakit sekitar beberapa bulan lalu, benarkah?"
Kini kita telah berada di dalam kamarku berbaring sebelahan diatas satu ranjang.
"Kapan terakhir kita tidur bersama seperti ini?" wanita itu mulai mencoba membuka percakapan.
"Mungkin saat aku sakit sekitar beberapa bulan lalu, benarkah?"
"Iya, saat itu aku menemanimu sampai akhirnya kau tertidur pulas."
Tak lama kemudian aku menoleh untuk melihat wanita disebelahku itu, tampaknya ia sudah kembali tertidur. Wajahnya terlihat sangat damai dan mulai tenggelam dalam kenyamanan, bibirnya terlihat seperti sedang tersenyum, mungkin ia sedang bermimpi indah. Mataku pun mulai berat seolah ingin segera menyusul pergi ke dalam mimpi indah wanita itu, sebelum tidur aku berdoa :
Ya Tuhan aku belum siap dan tidak akan pernah siap untuk kehilangannya. Aku mohon berikan kesempatan waktu yang sangat lama untuk wanita ini bisa menemaniku, sampai aku bisa memberi sedikit kebahagiaan untuknya dengan memperlihatkan keberhasilan yang aku capai berkat doanya dan usahaku selama ini.
Kesedihanku adalah kesedihan baginya, bahagiaku pun adalah kebahagiaan untuknya. Ternyata kebahagiaanya sederhana dengan melihatku bahagia maka aku telah memberikan kebahagiaan untuknya. Amarahnya semata-mata bentuk kecemasan untuku yang sering kali aku salah memahaminya. Wanita yang selalu melakukan segalanya untuku, tapi apa yang telah aku lakukan untunya? Pastilah kata terima kasih tidak pernah cukup untuk membalas semua itu, hanya Tuhan yang bisa membalas semua kemuliaanya.
Untuk
wanita yang mencintaiku lebih dari
mencintai dirinya sendiri “Selamat hari
ibu!”

BalasHapusI am pretty much pleased with your good work. you put a important information.reading your next page.
Escorts Services in Delhi
Gigolos in Delhi
Rajasthan Tour Packages
Tour Packages For Goa