Kamis, 20 Desember 2012

Selamat Hari Ibu



Terdengar suara gemercik air dibalik jendela kamar, aku mulai mencoba lebih mendekat untuk melihat suasana di sekitar pekarangan rumah.  Hujan gerimis sejak beberapa jam lalu ini sudah membasahi semua yang tidak memiliki atap seperti tumbuhan, tanah, batu, dan tak terkecuali seorang wanita yang baru saja membuka gerbang rumah dengan keadaan basah kuyup dan terlihat sangat kedinginan. Ia mulai berjalan menghampiri pintu rumah untuk bisa segera masuk dan menyelamatkan diri dari angin yang sangat kencang, hingga berhasil mengibar-ngibarkan hijab yang ia kenakan saat itu.  Aku yang pada saat itu juga serontak berlari ketempat yang sama, bertujuan ingin menggapai gagang pintu lebih dulu agar bisa menyambut kedatanganya dengan sekedar membukakan pintu, tapi kali ini aku terlambat. Wanita itu mulai masuk ke dalam sambil mengucap salam dengan nada lirih, ketika itu juga ia mendapati diriku yang sedang berdiri beberapa langkah dari tempat ia berada.  Terlihat sebuah senyuman menyejukan yang terpancar dibalik kelelahan  yang tampak jelas terlihat diwajahnya.  Kubalas senyuman itu sambil bejalan menuju kursi untuk duduk.

Tiba-tiba aku teringat beberapa saat lalu, ketika keadaan terjadi sebaliknya aku yang datang ketika wanita itu sudah dirumah, ia selalu menyambutku dengan membukakan gerbang walau hujan besar sekalipun tanpa terlambat. Lalu bagaimana dengan aku yang hanya ingin membukakan pintu dari dalam rumah saja tidak berhasil karena ia lebih dulu membukanya. Ketika aku masuk sudah tersedia makanan dan handuk untuk mengeringkan badanku yang basah sehingga aku merasa lebih baik, lalu sekarang apa yang sudah aku siapkan untuknya. Pandanganku tidak pernah lepas memperhatikan sosok wanita itu yang sejak pulang tadi begitu sigap melakukan berbagai hal, tanpa mengistirahatkan raganya yang sangat lelah itu terlebih dulu.

Aku berjalan menghampirinya ke arah dapur, ia mulai menyadari kedatanganku saat itu.

“Aku belum menyiapkan apapun untuk bisa kau makan, tapi tunggu beberapa saat ya!” ujar wanita itu tanpa menoleh ke arahku dengan tanganya yang berkerja dengan sangat cekatan membuat beberapa masakan.

Aku memperhatikan apa yang ia kerjakan lebih dekat, “Aku belum terlalu lapar jadi tak usah terburu-buru menyiapkanya”.

“Kehujanan?”

“Tidak! Aku sampai rumah sebelum hujan turun.”

“Syukurlah,bisa sakit kalau kehujanan!” ujar wanita itu sambil tersenyum ke arahku.

Aku mulai membuka mukena yang dikenakan seusai shalat dan memanjatkan beberapa doa yang sangat singkat, lalu aku keluar dari kamar untuk mengambil air minum yang sejak lama dibutuhkan karena merasa haus. Terlihat pintu kamar yang terbuka disebrang pintu kamarku, kudapati wanita itu sedang duduk berlama-lama menghadap kiblat dengan mengenakan mukena dan tanganya yang terbuka sejajar dengan dada, sesekali aku melihat butiran air mata mulai terjatuh mengalir membasahi kedua pipinya. Dadaku mulai bergetar melihatnya, sebenarnya apa yang sedang ia pinta kepada sang Pencipta dan siapakah seseorang yang sangat beruntung karena selalu mendapatkan doa dari wanita suci didepanku ini. Beberapa lama aku terpatung melihatnya terkadang air mataku seakan ingin ikut menetes, tampaknya ia mulai menutup doanya dan membuka mukena yang ia kenakan.

Aku mulai pergi menjauh menuju kamarku tanpa menutup pintu, kubuka beberapa buku dengan niatan akan belajar. Tapi pikiranku masih tetap pada wanita yang sedang berdoa tadi. Hatiku mulai merasa dan sadar bahwa mungkin diriku yang selalu ia doakan. Setiap kali seusai shalat dalam skala lima waktu dalam sehari, namaku tidak pernah luput ia sebut dalam setiap doanya. Lalu bagaimana dengan aku, biasanya aku hanya ingin cepat untuk beranjak seusai shalat dengan sengaja melupakan kewajibanku untuk selalu mendoakan wanita itu.

“Belajar?”, wanita itu masuk ke dalam kamarku dengan membawa beberapa pakaian yang akan segera ia masukan ke dalam lemari.

Aku meperhatikan tubuhnya yang mulai tidak sekuat beberapa tahun lalu, ketika aku masih kecil dan belum bisa melakukan apapun sendirian. Kini mulai terlihat beberapa kerutan dekat ujung mata dan pipinya saat tersenyum kepadaku. Terlihat pula sangat jelas beberapa urat biru melintang di punggung tanganya saat ia sedang merapikan beberapa baju. Tangan yang dulu selalu menggendong, menyuapi, dan melindungku itu sampai saat ini masih bekerja untuku, terkadang terdengar keluhanya saat wanita itu mulai merasakan sakit dan ngilu pada tanganya yang mulai lecet. Tapi apa yang bisa aku lakukan saat itu entahlah aku terlalu pasif untuk memperlihatkan kepedulianku terhadapnya.

Selama ini sangat banyak kejadian yang aku lewati dengan wanita itu. Tidak hanya kejadian manis tapi terkadang perselisihan dan amarah pun ikut mewarnai hubungan kami selama ini. Aku sering melakukan kesalahan yang membuat ia jengkel terhadapku, wanita itu marah dan menasehatiku dengan beberapa kata yang sulit untuk aku terima dan pahami. Entahlah aku tidak pernah mengerti maksud amarahnya itu adalah cerminan dari kecemasanya, bukan bermaksud sebal atau benci kepadaku. Aku sering salah mentafsirkan semua perlakuanya yang terkadang teramat berlebihan kepadaku, sebenarnya itu tanda kalau cinta dan sayangnya pun teramat berlebihan juga.

Begitu banyak sekali yang tidak aku tau tentang wanita itu, tapi ia begitu tau apapun seluk beluk tentang diriku. Ia mengetahui betul saat perasaanku sedang sedih atau senang, sebenarnya ia sangat beranutusias mendengarkkan ceritaku jika memang aku mau untuk bercerita kepadanya. Tapi yang sering aku lakukan hanya berdiam diri dikamar saat perasaanku sedang sedih dan membiarkanya khawatir terhadap diriku.


Beberapa lama aku terdiam didepan meja belajarku tanpa melakukan hal apapun. Sudah larut malam biasanya ayahku akan pulang beberapa menit lagi. Kucoba untuk melihat apa yang sedang wanita itu lakukan sekarang di dalam kamarnya, perlahan-lahan aku membuka pintu kamar dan disitu juga aku mulai mendapati dirinya sudah terbaring dibagian sebelah kiri ranjang. Kumulai mendekat dengan langkah yang mengendap-ngendap karena tak ingin membuatnya terbangun. Mungkin wanita itu sangat lelah sehingga ia tidak menyadari sama sekali kedatanganku yang saat ini sudah berada tepat disebelahnya.



Kumenatap wajahnya yang sudah tak asing lagi bagiku di usianya yang sudah tidak muda lagi, harus kuakui wanita ini masih terlihat sangat cantik dengan tulang rahang dan pipi yang terlihat jelas, serta bentuk wajahnya yang ouval. Tubuhnya yang kurus dan kakinya yang jenjang membuatku semakin merasa bersalah, selama ini aku tidak pernah membantunya melakukan hal yang biasa ia lakukan dirumah. Tiba-tiba terdengar suara petir yang membuat wanita disebelahku terbangun dan menyadari aku sudah ada disebelahnya.



“Sudah belajarnya?”



“Sudah!” jawabku dengan wajah yang canggung karena masih merasa bersalah terhadapnya.

“Takut petir ya? Makanya kesini, malam ini kita tidur dikamarmu, bagaimana?”

Aku hanya mengangguk pelan dengan tersenyum menatap wajahnya, biasanya aku sering menolak saat ia ingin tidur bersamaku tapi kali ini entah kenapa aku ingin sekali bersamanya. 

Pikiranku mulai jauh dan tertuju pada suatu kejadian yang paling menakutkan. Aku tidak bisa membayangkan jika wanita disebelahku ini sudah tidak bisa lagi meneman,i saat aku merasa ketakutan ketika ada petir atau hal buruk lainya.

Kini kita telah berada di dalam kamarku berbaring sebelahan diatas satu ranjang.

"Kapan terakhir kita tidur bersama seperti ini?" wanita itu mulai mencoba membuka percakapan.

"Mungkin saat aku sakit sekitar beberapa bulan lalu, benarkah?"

"Iya, saat itu aku menemanimu sampai akhirnya kau tertidur pulas."

Aku hanya terdiam sambil menatap kearah langit-langit kamar dan mulai bertanya dalam hati, "Kapan aku menemaninya saat ia sakit? Bukankah tidak pernah?"

Tak lama kemudian aku menoleh untuk melihat wanita disebelahku itu, tampaknya ia sudah kembali tertidur. Wajahnya terlihat sangat damai dan mulai tenggelam dalam kenyamanan, bibirnya terlihat seperti sedang tersenyum, mungkin ia sedang bermimpi indah. Mataku pun mulai berat seolah ingin segera menyusul pergi ke dalam mimpi indah wanita itu, sebelum tidur aku berdoa :

Ya Tuhan aku belum siap dan tidak akan pernah siap untuk kehilangannya. Aku mohon berikan kesempatan waktu yang sangat lama untuk wanita ini bisa menemaniku, sampai aku bisa memberi sedikit kebahagiaan untuknya dengan memperlihatkan keberhasilan yang aku capai berkat doanya dan usahaku selama ini.


Kesedihanku adalah kesedihan baginya, bahagiaku  pun adalah kebahagiaan untuknya. Ternyata kebahagiaanya sederhana dengan melihatku bahagia maka aku telah memberikan kebahagiaan untuknya. Amarahnya semata-mata bentuk kecemasan untuku yang sering kali aku salah memahaminya. Wanita yang selalu melakukan segalanya untuku, tapi apa yang telah aku lakukan untunya? Pastilah kata terima kasih tidak pernah cukup untuk membalas semua itu, hanya Tuhan yang bisa membalas semua kemuliaanya.

Untuk wanita  yang mencintaiku lebih dari mencintai dirinya sendiri  “Selamat hari ibu!”




1 komentar: