Aku menghela
nafas panjang dan mulai duduk berhadapan dengan pria yang sudah mengungguiku
sejak tadi, sejenak aku terdiam dan mulai terpana dengan penampilanya. Benar-benar
nyaris tidak ada yang berubah, sekilas pria itu masih sama dengan seseorang
yang kukenal “dulu”. Suaranya yang
sedikit serak, kemeja biru dongker yang dia kenakan, dan paras wajahnya yang
selalu membayangiku setiap malam sebelum aku tidur. Jujur aku sangat
merindukanya apalagi aroma parfumnya yang sangat khas sekali itu membuatku
hampir tak kuasa menahan diri untuk segera memeluk dan membiarkan aromanya
menempel di baju yang kukenakan seperti biasanya, tapi itu “dulu”.
“Minum?”
tawarnya sambil menyodorkan menu yang berada diatas meja ke arahku.
“Terima kasih
tapi aku nggak haus,” jawabku datar sambil menatap kearahnya sedikit sinis.
“Raka itu teman kamu?” tanyaku sambil menyibakan poni ke arah samping.
Jelas terlihat
roman muka pria itu berubah drastis dan nafasnya seperti tercekat seketika saat
mendengar pertanyaanku yang tiba-tiba itu. Raut mukanya menjadi tegang dan
gerakan telapak tanganya bergerak tidak beraturan seperti sedang bingung harus
menanggapi pertanyaanku, tak sepetah katapun dia mampu untuk menjawabnya.
Matanya melihat kearahku mulutnya pun sedikit menganga, dengan keadaan seperti
itupun dia masih terlihat sangat tampan.
“Jawab Dika!”,
tegasku sambil mengarahkan tatapan mata yang tajam kepadanya. “Dika tolong! Apa
belum cukup permainan yang kamu buat beberapa saat lalu? Yang berhasil membuat
aku tersiksa menahan kekecewaan hingga saat ini, menyembuhkan luka sendirian,
menahan kesedihan didepan semua orang. Menahan tubuh ini agar tetap tegak
berdiri saat melihat kamu menggenggam tangan seseorang yang bukan lagi
tangaku?”
Rahangnya
tetap telihat kokoh dan hidung bangirnya tampak jelas dengan ekspresi serius
saat berkata .“Tapi dia orang baik, aku jamin itu. Bahkan lebih baik daripada
aku,” jawabnya polos.
Plaaaakkkkkkkkk.... kurang dari 10 detik
saja tanganku sudah mendarat di pipinya. Kutarik nafas dalam-dalam untuk
berusaha menahan emosi dan air mata yang mulai membuat mataku buram seperti
akan segera terjatuh membasahi kedua pipi. Tidak! Aku tidak boleh terlihat
lemah, aku tidak harus menangisi hal seperti ini.
“Naya, apa kamu
tidak bisa bicara dengan baik-baik?”
“Aku hanya
bisa bicara baik-baik dengan orang baik-baik Dik!”
“Apa pantas
kamu berlaku seperti itu pada orang yang kamu kenal?”
“Asal kamu tau
hanya pada kamu aku berani melakukan itu”
“Hanya aku?
Kenapa?”
“Iya! Karena
hanya kamu yang pantas menerimanya. Setelah semua yang telah kamu lakukan Dika,
kamu lupa?”
Kini Dika
kembali menunduk, tanpa berkata apapun ia kembali menggerakan kedua telapak
tanganya dan kali ini sangat tidak beraturan.
“Maksud kamu
apa dik? Kalau Raka lebih baik dari kamu hubunganya dengan aku apa?”, kataku
terhenti karena sudah tidak sanggup menahan air mata yang mulai turun. Dengan
cepat aku segera menyembunyikan kesedihanku dengan memalingkan wajah ke arah
kanan beberapa saat sampai kembali berani menatap mata Dika. “Kalau kamu nga
sayang aku nggak apa-apa, tapi tolong jangan seperti ini , kamu seakan-akan
buang aku setelah nggak kamu butuhkan lagi!”
“Maaf! Tapi
aku hanya ingin kembali melihat kamu tersenyum Naya. Aku telah merampas habis
seluruh kebahagiaan yang kamu punya, karena aku Naya!”
“Bodoh!”
“Nanya, aku
menyesal!”
“Percuma.”
“Tapi, aku
menyesal! Menyesal dan menyesal! Sangat menyesal!”
“Cukup 5kali!
Penyesalan kamu nggak ada gunanya, percuma.”
“Tapi... kamu
pernah bilang kalau aku harus tanggung jawab buat semuanya, bisa buat kamu kaya
dulu lagi ketawa-ketawa lepas lihat kamu seneng lagi. Aku mau kamu....”
“Omong kosong!
Emang kamu peduli?”
“Naya....please!”
“Dika please,
motivasi kamu bikin aku seneng dengan ngasih cp aku ke temen kamu Raka gitu?
Kamu pikir aku percaya?” ucapku ketus. Kali ini aku benar-benar tidak sanggup
lagi menahan emosi yang begitu meluap-luap sejak tadi.
“Asal kamu tau
Naya, Raka yang minta bukan aku yang tiba-tiba kasih!”
“Apapun
alasanya! Nggak seharusnya kamu seperti itu, tolong jangan berlaku bodoh lagi!”
Rasanya aku
ingin segera meninggalkan Dika di tempat itu entah kenapa dada ini terasa sangat
sakit dan sesak, penglihatanku mulai buram tidak mampu lagi melihat apapun
dengan jelas. Aku sangat bingung entah apalagi yang harus aku katakan kepada Dika,
tapi kali ini perasaanku sedikit lega karna telah mengungkapkan semua kekesalan
yang selalalu mengganjal selama ini. Semenjak ada Raka yang awalnya mengaku
mengetahuiku dari salah satu temanya yang tidak lain adalah Dika, seseorang
yang telah berhasil menggoreskan luka teramat dalam dan masih sangat membekas
hingga saat ini.
“Mulai
sekarang tolong, kita urusi hidup kita masing-masing dan jangan saling
mencampuri. Terima kasih!”, tegasku sambil bergegas untuk pergi. Sebelum aku
berhasil melewati Dika yang berada tepat di depanku, tiba-tiba ia langsung
menarik lengan tanganku dengan sigap seolah memberi isyarat agar aku bisa
segera kembali untuk duduk. ”Sekarang apalagi?”
“Lihat ini
Nay”,seru Dika sambil menyodorkan ponsel miliknya kearahku. Aku terdiam dan mulai
membaca kalimat yang sedang coba ia perlihatkan di ponselnya. Rupanya sebuah archieve chat massanger aku dengan dia “dulu”.
“Naya:
Terima kasih Dika! Kamu tau? Naya sangat beruntung bisa mengenal kamu. Tidak
terhitung berapa tawa kebahagiaan yang telah kamu ciptakan malam ini dan
sebelum-sebelumnya, itu cukup menjadi alasan kenapa Naya selalu bisa bahagia
dan tertawa saat bersama Dika. Hanya dengan Dika! Iloveyou badutku
Dika
: Kembali kasih! Jangankan menjadi badutmu, menjadi apapun aku mau kalau
untukmu Naya.”
“Aku cuma mau lihat Naya bisa seperti dulu
lagi, aku pikir mungkin Raka bisa membuat Naya kembali tertawa dan seneng kalau
Naya sama dia. Aku kenal Raka dia baik, dia humoris semua kriteria yang kamu
suka ada pada diri Raka. Sebenarnya sudah lama Raka minta aku kenalkan dengan
kamu, tapi awalnya aku marah aku nggak rela. Aku cemburu!”
“Dan
akhirnya?”
“Akhirnya
setelah dipikir baik-baik aku nggak mau egois, aku mau lihat Naya seneng walau
aku harus nanggung sakit hati. Cuma itu yang aku mau, nggak ada maksud apapun
lagi sumpah,” jelasnya dan kini ia mulai menggenggam kedua tanganku seolah
memaksaku untuk percaya.
“Kalau
kamu mau buat aku seneng Dik, pake tangan kamu sendiri!”
Tidak
terasa malam pun sudah sangat larut dan aku memutuskan untuk segera pulang
sendiri tanpa menerima tawaranya untuk mengantarkanku, dengan membawa jawaban
yang jelas dari mulu Dika mungkin seterusnya aku akan lebih bisa menguasai
perasaanku yang selalu bertanya-tanya tentang semua maksud yang selama ini ia
lakukan terhadapku.
“I just want you Dik, no their!”, kesahku
dalam hati sambil pergi meninggalkannya.
Ternyata tidak selamanya niat baik bisa bisa
diterima dengan baik. Pengorbanan ;melihatnya
senang walau dengan orang lain; itu terkadang tidak diperlukan selama yang
diharapkanya bukan orang lain melainkan orang yang berkorban itu sendiri, bahkan
adalah sebuah kebodohan besar bila merelakan sesuatu yang seharusnya
diperjuangkan.