Jumat, 17 Mei 2013

The secret

Liannahaa absathu min dzaalika kullih, lau ta'lamuun!
"Karena sesungguhnya, perempuan itu lebih luas dan lebih mistrerius 
dari semua itu, jika kalian tahu!"

Selasa, 07 Mei 2013

Love without reason

Galang : "Please... I'm serious now."
Dara    : "Oke if you want to say it again, I already know!"
Galang : "SO?"
Dara    : "You must be thinking about it again."
Galang : "I think enough! and the answer remains the same I love you!!!!"
Dara    : "But... I'm freak! You already know or have not realized?"
Galang : "I don't care, and I've confirmed about it."
Dara    : "Ok! But I can't promise to be changed."
Galang : "Don't be normal. You're beautiful the way you are!"

Senin, 18 Maret 2013

Arti Amarah

     "Jeleeeeeeek, mukamu jelek ditekuk seperti itu!"
     "Bodo!"
     "Dalam keadaan biasapun kau terlihat jelek, apalagi ditambah murung seperti itu"
     "Siapa dia?"
     "Dia?"
     Aku memilih diam untuk membuatnya lelah berpura-pura telah melupakan kejadian tadi.
     "Cemburu?"
     "Jawabanmu sama sekali nggak nyambung." Aku membalikan badan agar tidak lagi saling bertatapan denganya.
     "Rupanya ada yang terbakar nih."
     "Candamu murahan, sama seperti kelakuanmu saat merasa keren mengenal banyak wanita cantik tadi!"
     "Karin... Apakah untuk mengakui cemburu itu sangat hina dimatamu, sampai-sampai.. ?" Dinal bangkit dari posisi duduknya yang semula dan mulai duduk dibawah bangku taman sambil melihat wajahku dari arah bawah.
     "Tidak suka itu lain dengan cemburu! Apa kamu tidak mengerti?"
     Dinal terdiam. Beberapa menit dia hanya memandangiku sambil tersenyum menggoda.
     "Aku capek, aku ingin pulang!"
     "Nggak!"
     "Tapi aku ngantuk. Kenapa engga?"
     "Karena aku capek kalau harus mengantarmu pulang sekarang"
     "Kamu bohong!"
     "Kamu juga! Aku mengenalmu bukan dalam hitungan hari tapi berbulan-bulan, harusnya kamu sadar itu. Kamu tidak akan pernah bisa membohongiku karena aku tau semuanya tentang kamu." 
     "Yakin?"
     "Aku tau kapan kamu bohong, kamu ngantuk, kamu senang, sedih, takut." Tawanya terlihat yakin.
     Aku menggelengkan kepalaku sangat tegas. "Bahkan dalam waktu 10 tahun pun aku tidak yakin kamu bisa mengerti aku sepenuhnya. Untuk perkara kecil pun kamu tidak pernah peka apalagi lebih dari itu. Kamu payah! "
     "Baiklah, katakan apa salahku?" Aku memalingkan wajah darinya. Aku kesal sangat kesal. "Selalu seperti ini, andai ada rumus pasti untuk mengertimu pasti akan aku pelajari. Aku tidak akan pernah bisa mengerti kebisuanmu. Katakan sesuatu!"
     "Diamku saja tidak kau mengerti apalagi perkataanku. Kamu payah!" Dinal benar-benar menyebalkan dalam keadaan seperti ini pun ia tidak tau apa yang seharusnya ia lakukan. "Aku pulang sendiri, semoga kamu bisa lebih berinisiatif!" Aku mulai bangkit dan berjalan seorang diri tanpa memaksanya mengantarkanku pulang seperti biasa.
     "Akan aku coba ya, hati-hati dijalan!" 
     Langkahku terhenti. Kini kurasa darahku mengalir sangat deras ke seluruh tubuh, tanganku mulai mengepal sampai buku-buku jariku memutih karena tidak ada aliran darah yang mampu masuk kedalamnya.    "Kamu brengsek!"
     "Tunggu!" seru Dinal sambil berlari menghampiriku. "Apa kamu bilang?"
     "Brengsek!" tegasku sekali lagi.
     "Untuk berkata brengsek saja kamu bisa selantang itu, tapi untuk melontarkan kata sayang kamu tidak pernah seberani itu. Kamu tau? Kamu lebih payah!" katanya sambil tersenyum sinis.
     Kali ini aku tidak menjawab apapun. Aku hanya bisa membisu dan mematung dihadapanya.
     "Kalau saja kamu bisa sedikit lebih jujur mungkin aku akan lebih mengerti." Tangan Dinal memegang erat tangaku jemari tanganya terasa hangat menyentuh jemari tanganku. "Tapi, aku akui kamu memang hebat, apalagi dalam hal menahan gengsi dan aku bisa apa. Tapi sudahlah sekarang kita pulang saja" ajak Dinal dengan nada melesu.
     Dengan rasa malu aku mulai berusaha  tersenyum untuk membalas senyumnya kepadaku. "Aku nggak mau aku... masih mau sama kamu."
     "Tanggal berapa ini? Tolong catat ya!" seru Dinal. Wajahku menoleh ke arah Dinal karena tidak mengerti harus mencatat soal apa. "Dari awal ini pertama kalinya kamu menolak ajakan pulangku dengan jawaban yang sebenarnya, biasanya alasanmu tidak jauh dari kata malas pulang"
     Aku tertawa. Dinal pun ikut tertawa, dan kamipun tertawa bersama-sama memecah situasi yang sempat mencekam tadi. 
     "Mulai sekarang kita belajar, sama-sama belajar ya!"


Belajar untuk bisa lebih mengerti arti dari sebuah amarah. Belajar untuk berani berkata jujur dan mengakui kecemburuan pastinya :)

Sabtu, 16 Maret 2013

Misperceptions



Suasana salah satu cafe yang berada di tengah-tengah kota ini sangat ramai pengunjung, tapi tetap memiliki suasana yang tenang dengan alunan musik akustik dan sorot lampu-lampu berwarna redup, tetap tampak terlihat jelas situasi dan keadaan di tempat itu mulai dari pemandangan pasangan anak muda yang sedang mengobrol hingga pelayan yang dengan sigap berlalu-lalang melayani setiap pengunjung cafe ini.

Aku terdiam sejenak tepat didekat pintu masuk cafe dan mulai melihat sekeliling sambil melipat kedua tanganku. Hingga detik ini aku masih tidak mengerti hal bodoh apa yang sedang aku lakukan, kucoba meneruskan langkahku untuk masuk lebih dalam ke ruangan cafe berjalan menyusuri beberapa meja tanpa menoleh pada seorang pun yang saat itu sedang melihat kearahku. Besar harapan semoga malam ini tidak ada seorang pun yang berada di cafe ini menyapaku entah itu teman atau siapapun. Niatku hanya satu, melepaskan semua amarah yang telah menguasai batin ini sejak tadi siang. Rupanya pria itu sudah duduk di meja yang biasanya kita tempati “dulu”.
“Hai mba Kanaya. Kabar baik?” Sapa pria itu dengan wajah sumringah dan segera berdiri dari tempat duduknya untuk menyambutku yang baru datang.
Aku menghela nafas panjang dan mulai duduk berhadapan dengan pria yang sudah mengungguiku sejak tadi, sejenak aku terdiam dan mulai terpana dengan penampilanya. Benar-benar nyaris tidak ada yang berubah, sekilas pria itu masih sama dengan seseorang yang kukenal “dulu”. Suaranya yang sedikit serak, kemeja biru dongker yang dia kenakan, dan paras wajahnya yang selalu membayangiku setiap malam sebelum aku tidur. Jujur aku sangat merindukanya apalagi aroma parfumnya yang sangat khas sekali itu membuatku hampir tak kuasa menahan diri untuk segera memeluk dan membiarkan aromanya menempel di baju yang kukenakan seperti biasanya, tapi itu “dulu”.
“Minum?” tawarnya sambil menyodorkan menu yang berada diatas meja ke arahku.
“Terima kasih tapi aku nggak haus,” jawabku datar sambil menatap kearahnya sedikit sinis. “Raka itu teman kamu?” tanyaku sambil menyibakan poni ke arah samping.
Jelas terlihat roman muka pria itu berubah drastis dan nafasnya seperti tercekat seketika saat mendengar pertanyaanku yang tiba-tiba itu. Raut mukanya menjadi tegang dan gerakan telapak tanganya bergerak tidak beraturan seperti sedang bingung harus menanggapi pertanyaanku, tak sepetah katapun dia mampu untuk menjawabnya. Matanya melihat kearahku mulutnya pun sedikit menganga, dengan keadaan seperti itupun dia masih terlihat sangat tampan.
“Jawab Dika!”, tegasku sambil mengarahkan tatapan mata yang tajam kepadanya. “Dika tolong! Apa belum cukup permainan yang kamu buat beberapa saat lalu? Yang berhasil membuat aku tersiksa menahan kekecewaan hingga saat ini, menyembuhkan luka sendirian, menahan kesedihan didepan semua orang. Menahan tubuh ini agar tetap tegak berdiri saat melihat kamu menggenggam tangan seseorang yang bukan lagi tangaku?”
Rahangnya tetap telihat kokoh dan hidung bangirnya tampak jelas dengan ekspresi serius saat berkata .“Tapi dia orang baik, aku jamin itu. Bahkan lebih baik daripada aku,” jawabnya polos.
Plaaaakkkkkkkkk.... kurang dari 10 detik saja tanganku sudah mendarat di pipinya. Kutarik nafas dalam-dalam untuk berusaha menahan emosi dan air mata yang mulai membuat mataku buram seperti akan segera terjatuh membasahi kedua pipi. Tidak! Aku tidak boleh terlihat lemah, aku tidak harus menangisi hal seperti ini.
“Naya, apa kamu tidak bisa bicara dengan baik-baik?”
“Aku hanya bisa bicara baik-baik dengan orang baik-baik Dik!”
“Apa pantas kamu berlaku seperti itu pada orang yang kamu kenal?”
“Asal kamu tau hanya pada kamu aku berani melakukan itu”
“Hanya aku? Kenapa?”
“Iya! Karena hanya kamu yang pantas menerimanya. Setelah semua yang telah kamu lakukan Dika, kamu lupa?”
Kini Dika kembali menunduk, tanpa berkata apapun ia kembali menggerakan kedua telapak tanganya dan kali ini sangat tidak beraturan.
“Maksud kamu apa dik? Kalau Raka lebih baik dari kamu hubunganya dengan aku apa?”, kataku terhenti karena sudah tidak sanggup menahan air mata yang mulai turun. Dengan cepat aku segera menyembunyikan kesedihanku dengan memalingkan wajah ke arah kanan beberapa saat sampai kembali berani menatap mata Dika. “Kalau kamu nga sayang aku nggak apa-apa, tapi tolong jangan seperti ini , kamu seakan-akan buang aku setelah nggak kamu butuhkan lagi!”
“Maaf! Tapi aku hanya ingin kembali melihat kamu tersenyum Naya. Aku telah merampas habis seluruh kebahagiaan yang kamu punya, karena aku Naya!”
“Bodoh!”
“Nanya, aku menyesal!”
“Percuma.”
“Tapi, aku menyesal! Menyesal dan menyesal! Sangat menyesal!”
“Cukup 5kali! Penyesalan kamu nggak ada gunanya, percuma.”
“Tapi... kamu pernah bilang kalau aku harus tanggung jawab buat semuanya, bisa buat kamu kaya dulu lagi ketawa-ketawa lepas lihat kamu seneng lagi. Aku mau kamu....”
“Omong kosong! Emang kamu peduli?”
“Naya....please!”
“Dika please, motivasi kamu bikin aku seneng dengan ngasih cp aku ke temen kamu Raka gitu? Kamu pikir aku percaya?” ucapku ketus. Kali ini aku benar-benar tidak sanggup lagi menahan emosi yang begitu meluap-luap sejak tadi.
“Asal kamu tau Naya, Raka yang minta bukan aku yang tiba-tiba kasih!”
“Apapun alasanya! Nggak seharusnya kamu seperti itu, tolong jangan berlaku bodoh lagi!”
Rasanya aku ingin segera meninggalkan Dika di tempat itu entah kenapa dada ini terasa sangat sakit dan sesak, penglihatanku mulai buram tidak mampu lagi melihat apapun dengan jelas. Aku sangat bingung entah apalagi yang harus aku katakan kepada Dika, tapi kali ini perasaanku sedikit lega karna telah mengungkapkan semua kekesalan yang selalalu mengganjal selama ini. Semenjak ada Raka yang awalnya mengaku mengetahuiku dari salah satu temanya yang tidak lain adalah Dika, seseorang yang telah berhasil menggoreskan luka teramat dalam dan masih sangat membekas hingga saat ini.
“Mulai sekarang tolong, kita urusi hidup kita masing-masing dan jangan saling mencampuri. Terima kasih!”, tegasku sambil bergegas untuk pergi. Sebelum aku berhasil melewati Dika yang berada tepat di depanku, tiba-tiba ia langsung menarik lengan tanganku dengan sigap seolah memberi isyarat agar aku bisa segera kembali untuk duduk. ”Sekarang apalagi?”
“Lihat ini Nay”,seru Dika sambil menyodorkan ponsel miliknya kearahku. Aku terdiam dan mulai membaca kalimat yang sedang coba ia perlihatkan di ponselnya. Rupanya sebuah archieve chat massanger aku dengan dia “dulu”.

“Naya: Terima kasih Dika! Kamu tau? Naya sangat beruntung bisa mengenal kamu. Tidak terhitung berapa tawa kebahagiaan yang telah kamu ciptakan malam ini dan sebelum-sebelumnya, itu cukup menjadi alasan kenapa Naya selalu bisa bahagia dan tertawa saat bersama Dika. Hanya dengan Dika! Iloveyou badutku
Dika : Kembali kasih! Jangankan menjadi badutmu, menjadi apapun aku mau kalau untukmu Naya.”
         
   “Aku cuma mau lihat Naya bisa seperti dulu lagi, aku pikir mungkin Raka bisa membuat Naya kembali tertawa dan seneng kalau Naya sama dia. Aku kenal Raka dia baik, dia humoris semua kriteria yang kamu suka ada pada diri Raka. Sebenarnya sudah lama Raka minta aku kenalkan dengan kamu, tapi awalnya aku marah aku nggak rela. Aku cemburu!”
                “Dan akhirnya?”
                “Akhirnya setelah dipikir baik-baik aku nggak mau egois, aku mau lihat Naya seneng walau aku harus nanggung sakit hati. Cuma itu yang aku mau, nggak ada maksud apapun lagi sumpah,” jelasnya dan kini ia mulai menggenggam kedua tanganku seolah memaksaku untuk percaya.
“Kalau kamu mau buat aku seneng Dik, pake tangan kamu sendiri!”
                Tidak terasa malam pun sudah sangat larut dan aku memutuskan untuk segera pulang sendiri tanpa menerima tawaranya untuk mengantarkanku, dengan membawa jawaban yang jelas dari mulu Dika mungkin seterusnya aku akan lebih bisa menguasai perasaanku yang selalu bertanya-tanya tentang semua maksud yang selama ini ia lakukan terhadapku.
I just want you Dik, no their!”, kesahku dalam hati sambil pergi meninggalkannya.
Ternyata tidak selamanya niat baik bisa bisa diterima dengan baik. Pengorbanan ;melihatnya senang walau dengan orang lain; itu terkadang tidak diperlukan selama yang diharapkanya bukan orang lain melainkan orang yang berkorban itu sendiri, bahkan adalah sebuah kebodohan besar bila merelakan sesuatu yang seharusnya diperjuangkan.

                                                       ♫♫♫♫♫♫♫♫♫♫♫♫♫
 I don't know why I'm scared, I've been here before
Every feeling, every word, I've imagined it all,
You never know if you never try
To forgive your past and simply be mine

I dare you to let me be your, your one and only
Promise I'm worthy to hold in your arms
So come on and give me the chance
To prove that I'm the one who can
Walk that mile until the end starts

If I've been on your mind
You hang on every word I say
Lose yourself in time at the mention of my name
Will I ever know how it feels to hold you close?
And have you tell me whichever road I choose you'll go
♫♫♫♫♫♫♫♫♫♫♫♫

Rabu, 13 Maret 2013

PRAKARSA WANITA



Take care yourself, for me :)
Sore itu aku kembali bertemu dengan Dimas di sebuah resto tempat favorit kita berdua, entah untuk keberapa kali kita kemari karena tak pernah ku hitung, yang pasti lebih dari belasan bahkan puluhan. Disini kita sering saling bercerita tentang hal apapun, waktu tak terasa terus berjalan dan lusa hampir dua tahun sudah kita menjalani sebuah komitmen . Aku nyaman bersamanya sejauh ini, hanya saja...
“Riva tolong jaketku!” seru Dimas setelah dia selesai menghabiskan makananya. Aku segera memberikan jaketnya yang saat itu sedang berada di pangkuanku. Tanpa banyak bicara lagi Dimas segera mengambil rokok dan bensin yang berada di saku jaket lalu kemudian membakar dan menghisapnya.
Aku hanya bisa terdiam seperti biasa saat Dimas melakukan kebiasaanya itu, tanganku seolah ingin merebut barang yang selalu ia hisap. Tapi bila aku melakukanya apa tidak akan menimbulkan sebuah perselisihan atau aku dianggap tidak pengertian, kolot, cerewet dan sebagainya. Beberapa kali pernah kucoba menyinggung tentang hal tersebut untuk menyampaikan secara tidak langsung bahwa sebenarnya aku tidak suka bila dia melakukanya terlebih lagi saat bersamaku.
“Kenapa diam terus sih Riv?” Aku hanya tersenyum dan masih menyaksikan kegiatan yang saat ini sedang dia lakukan. “Cerita dong apa aja atau.. Oh iya kemana aja kemarin seharian?” tanya Dimas sambil terus menerus menikmati setiap isapan sebatang rokok yang ia selipkan di jarinya.
“Kemarin aku pergi ke rumah temen karena ayahnya meninggal, kasian diumurnya yang masih muda dia harus  menjadi anak yatim. Belum sempat menyaksikan wisuda, menikah, dan merasakan senangnya menimang cucu” celotehku tak berhenti tanpa peduli Dimas mendengarku atau tidak. “Kamu harus tau itu!”
“Meninggalnya kena...”
“Jantung, paru-paru, asma dan masih banyak lagi initinya komplikasi!” jawabku dengan tangkas tanpa mebiarkan Dimas menyelesaikan pertanyaanya terlebih dulu. “Perokok sih!”
“Umur siapa yang tau kan Riva” responya dingin.
“Iyasih, tapi sebenarnya bukan masalah itu juga” nadaku melemah karena kecewa dengan respon Dimas yang seolah tidak sadar atau pura-pura tidak mengerti.
“Riva kamu kenapa?” tanya Dimas yang saat ini mulai mendekatkan wajahnya padaku.
“Engga, tapi aku suka mikir aja. Temanku itu kasihan dia kehilangan ayahnya saat masih kuliah, tapi sebenarnya ada yang lebih malang lagi banyak anak kecil berumur dibawah 10 tahun yang masih butuh sosok seorang ayah untuk menjaganya , memberi perhatian, dan kasih sayang.”
“Iyasih kasihan, berarti kita harus banyak bersyukur karena lebih beruntung dibanding mereka” senyum Dimas mengembang. Tapi kali ini aku benar-benar kesal terhadap respon yang dia berikan tadi. Selanjutnya aku lebih memilih untuk diam dan tidak banyak berbicara.
“Riva mau kemana lagi kita?”
“Terserah!”
Dimas manatapku keanehan terlukis sangat jelas ekspresi wajah dengan alisnya yang mulai terangkat sebelah pada saat itu. “Kamu masih mikirin ayah orang? Kenapa sih ko jadi empati berlebihan gitu. Lagian kenapa harus sedih toh ayah kamu masih ada, terus liat didepan kamu masih ada Dimas.”
“Perasaan istri saat suaminya meninggal itu pasti sakit banget ya, mungkin rasannya seperti berjalan dengan satu kaki. Dimas, Aku takut...” ucapku dengan nada pilu sambil menatap dalam kearah mata Dimas.
Tanpa disadari tangan Dimas sudah berada diatas tanganku, “Riva kamu ngomong apa?” tukasnya lembut.
“Dimas, aku takut! Aku takut kalau nanti kamu adalah orang yang berada satu kursi di pelaminan bersamaku. Yang aku takut bukan menjadi jodohmu, tapi kehilanganmu setelah menikah nanti. Kamu tadi bilang umur kan siapa yang tau!” Pandanganku kosong menerawang jauh kearah taman yang berada tepat didepan tempat duduku dengan Dimas. “Aku engga mau menjalani semuanya sendiri dan aku engga cukup kuat buat bisa lalui semuanya sendiri.”
“Kamu engga akan sendirian, tapi berdua sama aku!”
“Dimas apa kamu?”
“Apa? Aku kenapa?” tanya Dimas sangat antusias.
“Apa kamu tega biarin aku mikul beban sendirian? Kamu tega biarin aku nanggung sesuatu yang seharusnya jadi tanggung jawab dan kewajiban kamu? Kamu nggak mau gitu ngurus anak bareng aku sampai mereka besar? Nggak mau emang liat aku terus sampai muka aku berubah jadi keriput? Emangya kamu nga penasaran?”
Dimas seperti mendadak bisu beberapa saat, pelupuk matanya seolah menahan sesuatu yang akan menetes. Aku benar-benar memasang wajah cemas dan ketakutan.
“Dimas, aku bukan melarang sesuatu yang lumrah orang lakukan, itu wajar! Tapi tolong ini bukan hanya untuk aku, tapi untuk kamu! Masa depan kamu! Dimas ingat semuanya masih sangat panjang, masih banyak orang yang membutuhkan kamu. Jaga diri kamu baik-baik untuk istri dan anak-anak kamu nanti.” Kali ini aku seperti sedang menceramahi anak yang baru duduk di Sekolah Dasar, sebisa mungkin aku berusaha untuk membuatnya sadar dan mengerti bahwa kali ini aku bukan sedang menuntut atau memarahinya namun sedang membimbingya agar bisa membuka mata untuk melihat kedepan, yaitu masa depanya.
“Terima kasih Riva! Aku... ”
“Aku tau itu tidak mudah juga tidak sulit Dimas”, tuturku tidak kalah lembut dengan nada suaranya. “Step by step, perlahan-lahan semuanya kan butuh protes. Engga bisa langsung berhenti gitu aja kan? Aku ngerti, tapi kurang-kurangin ya mulai sekarang.”
“Riva aku engga tau setelah kamu, apa masih ada wanita lain yang mengatakan hal seperti yang kamu katakan tadi.” gumam Dimas pelan.
“Aku engga peduli siapapun pasangan kamu nanti, yang pasti kamu harus tetap bisa terus bertahan lebih lama buat mereka, jangan egois sayang! Mereka butuh kamu untuk waktu yang sangat panjang.” Aku tersenyum sambil menatap dalam matanya dan mengatakan “I hope you forever!” Aku mengelus punggung tanganya lembut, tersenyum hangat untuknya.
Dimas nampak menghela nafas dalam, lalu ikut tersenyum sambil menepuk-nepuk pelan puncak kepalaku kemudian menciumnya.







Rabu, 06 Maret 2013

Tentang "waktu"

Saya rela kalau memang benar dia lebih membutukan kamu
Dan sekarang kamu jauh lebih mengerti dan tau apa jawabanya
Siapa yang sebenarnya lebih membutuhkan kamu ?
Sekarang saya baru paham dan mengerti kenapa Tuhan takdirkan semuanya seperti ini
Hanya dengan ini kita bisa sama sama tau dan mengerti
Karna memang mungkin untuk sekarang saya bukan untuk kamu begitupun sebaliknya
Tapi saya ingin bertanya 
Saya harus bagaimana kalau saya rindu kamu ?
Jangan jawab pertanyaan ini dengan pertanyaan lagi seperti biasanya yang kamu lakukan
Dan saya percaya ini yang terbaik
Terkadang diam bukan berarti tidak berusaha bukan berarti tidak membela dan bukan berarti membiarkan
Harus semuanya pahami terkadang hanya diam itu bisa membuat semuanya terlihat dengan sendirinya membuktikan mana yang benar dan baik tanpa harus menghancurkan wibawa dengan emosi
Semua orang boleh mengira apapun termasuk kamu
Bukan saya tidak mau tapi saya tidak bisa dan ini masalah waktu
Saya sekarang tetap saya yang pertama kamu kenal
Bukan saya yang berubah tapi keadaan yang berubah
Saya tetap berusaha berdiri dan melakukan sesuai porsi saya
Jangan selalu menyangkut pautkan apapun dengan masa lalu
Saya tau dan semua orang tau masa lalu tidak selamanya baik baik saja
Biasa saja seolah tidak pernah terjadi sesuatu yang menyakitkan dengan hari kemarin itu yang seharusnya dilakukan semua orang dan saya pun tau itu sulit
Jangan mengira saya seperti ini karna tidak pernah merasakanya
Bahkan saya pikir lebih miris pengalaman saya daripada kamu
Tapi apa harus saya ceritakan semuanya sambil menangis dan memperlihatkan seberapa besar luka saya pada semua orang
Saya rasa itu hanya membuang waktu saja dan mungkin tidak semua yang mendengar bisa menegarkan bahkan mungkin ada yang menghiraukan dan mentertawakan
Cukup pada  Allah saya mengadu dan bersimpuh meminta keadilan dan balasan dari keiklasan serta kesabaran saya selama ini
Terbukti kini sekarang Allah telah perlihatkan kamu untuk saya Jawaban dari semua doa doa saya "Datangkanlah tunjukanlah seseorang yang bisa menutup semua luka besar saya!Seorang penyemangat hidup saya, tapi jangan hadirkan seseorang untuk menambah dosa saya, segala sesuatu yang lebih condong pada kerusakan hidup dan nasib saya nanti jauhkan ya Allah"
Tersirat dalam hati, mungkin orang itu kamu,mungkin....
Walau saya yakin tapi pendirian saya tidak berubah
Disini jujur saya gamang kamu hadir atas bentuk perkabulan doa dari Allah atau hanyalah pengecoh belaka yang mencoba membelokan saya
Sulit untuk menjelaskan alasanya
Entah harus dimulai dari mana untuk memaparkanya
Disini saya bukan membego-bogokan diri
Bukan maksud untuk mempermainkan tapi apa daya saya
Saya hanya bisa berdoa agar suatu saat nanti kamu tau dan mengerti atas keputusan ini
Cuma ini yang bisa saya katakan ”Allah terlalu menyayangi saya”
Jika semuanya tampak tidak logis dimata kamu atau siapapun terserah
Dan yang harus kamu tau ini bukan bentuk dari penghindaran
Melainkan penjagaan! Bentuk rasa sayang saya pada diri sendiri
Sakit memang, saya tau persis
Seperti menelan biji salak dan menyangkut di tenggorokan
Kamu sayang saya hargai 
Kamu sedih saya bersalah 
Kamu menunggu saya berusaha 
Kamu pergi saya mengerti 
Saya begini bukan berarti saya tidak peduli seperti yang kamu kira 
Hanya saja saya tidak mau memaksa kamu untuk menunggu dan berubah
Untuk mengikuti apa yang saya yakini
Dan saya tidak mau mempertahankan bila saya terus didesak 
Tidak banyak yang saya mau selain pengertian 
Tidak mudah untuk saya 
Butuh waktu agar saya bisa menjadi yang kamu mau membalas seluruh perasaan kamu dengan setimpal tapi lagi lagi ini "masalah waktu"

Lalu kemudian,selesai...

Apalagi yang harus aku lakukan apalagi yang harus aku pikirkan dan apalagi yang harus lupakan
Aku tidak tau
Bahkan sekarang pun aku tidak tau apa perasaan yang aku rasakan
Aku lega ? Aku sedih ? Aku tidak rela ? Aku takut menyesal ?
Yaaaa hanya perasaan itu yang paling jelas aku rasakan
Jelasnya aku mau semuanya jadi apa yang aku mau
Tapi bodohnya sekarang aku juga tidak tau apa yang aku mau
Semuanya masih samar , aku tau semuanya dan aku tidak tau kebenaran dari semuanya
Aku takut semua salah dan semuanya sudah terlanjur sudah
Mungkin terlalu berlebihan kalau aku bilang ' aku gaenak makan aku gaenak tidur aku ga tau lagi harus bagaimana'
Tapi memang itu yang terjadi pada aku sekarang
Aku jalan tapi ga ada tujuan
Aku cari tapi ga tau apa yang aku cari
Aku berdoa tapi aku gatau aku harus minta apalagi sama tuhan
Aku berharap tapi sekarang aku gapunya harapan lagi
Susah untuk membuat semuanya bisa seperti semula
Saat semuanya jalan pada jalur nya masing masing
Bisa berdiri tegak liat kedepan dan kembali menjalani semuanya ,seperti saat semua belum terjadi
Ketergantungan dan kebiasaan itu
Selalu saja membayang bayangi aku saat aku sekedar duduk dan berjalan bahkan setiap aku melakukan sesatu yang biasa nya aku lakukan dengan dia
Seterusnya bukan aku lagi
Bukan aku lagi yang jadi nomer satu atau memang aku tidak pernah menjadi yang nomer satu
Bukan aku lagi . . .
Orang yang dia televon , kirimi pesan singkat , ucapkan selamat malam setiap hari sebelum tidur
Orang yang dia pertama ingat saat pertama dia bangun dari tidurnya
Bukan aku lagi . . .
Orang yang dia marahi saat tidak memberikan kabar dalam sehari penuh
Tapi aku harap
Aku selalu jadi orang yang dia rindukan
Aku selalu jadi orang yang tidak akan pernah dia lupakan
Kata katanya
Kejujuran dan ketulusanya
Selalu membuat aku merasa salah mengambil keputusan seperti ini
Tidak ada yang bisa aku salahkan atas semua ini
Walau memang banyak orang yang salah yang membuat semuanya seperti ini
Termasuk aku
Kapan semuanya bisa aku lupakan
Kapan semuanya bisa aku terima
Kapan semuanya bisa aku mengerti
Kapan semuanya bisa aku maafkan
Kapan semuanya bisa Kembali seperti semula . . .
Dan kapan aku bisa mulai hidup aku seperti biasa lagi tanpa dia !
15052010 (Re-post)


Turn off lamp, Close your eyes, and Play!

핼로 여자들 세대의













































Jumat, 11 Januari 2013

MONOTON

Senin.. Selasa.. Rabu..yaa selamat hari rabu.. selamat mencoba untuk selalu terlihat ceria Rah.. Oiya.. Ini hari rabu keberapa ya semenjak... Ahahaha.. Tadi malam sebelum tdr aku hanya memfokuskan pikiran ku untuk kegiatan rutin hari ini... tapi mimpi itu.. Aku tak merindu bahkan teringat pun tidak.. Ya aku mulai berhasil! Mimpi tadi malam atau diri hari itu entahlah... maksudnya apa? Aku tidak pernah meminta mimpi seindah itu.. Indah??? Ya cukup indah dan aku harapkan, sebelum tdr aku hanya berdoa agar tidurku pulas, aku ingin menetralisasi otaku dengan semua pikiran yang ada saat aku tdr terutama kenangan.. Aku tidak pernah meminta agar bertemu denganya dalam mimpi, tp kenapa ia selalu tidak pernah absen dalam alam bawah sadarku.. Mimpi indah itu.. hanya sebuah mimpi yang akan selalu dibenci oleh siapapun saat terbangun.. Semuanya itu abstrak.. Mimpi itu tidak sinkron dengan kenyataan..mimpi indah hanya akan merusak suasana pagi hari.. Mengganggu semangat dan menghambat tekat ini untuk terus melaju sesuai alur waktu yang ada.. Tau kenapa aku benci mimpi itu ?iya karna mimpi itu Seolah memaksa untuk kembali mengulas sedikit ingatan yang menyesakan.. Pagi ini tetap sama "dengan" atau" tanpa" dia.. Hanya matahari yang selalu setia ada setiap pagi walau ia tak pernah berjanji.. Tubuhku masih terkulai lemas.. mataku kuyu masih belum sempurna untuk melihat yah walaupun memang nyaris tidak pernah sempurna tanpa memakai lensa.. Kuraba sela sela bantalku dimana biasanya ponsel ku disimpan.. Kuperiksa layar ponselku beberapa saat untuk memastikan jam dan beberapa pesan baru dari.. Pesan singkat berisikan kata "selamat pagi! semangat!" kuterima setiap harinya.. Pesan yg jujur tak pernah aku harapkan dan tidak sama sekali mengubahku menjadi semangat atas pesan itu.. Biasa.. Hambar.. Aneh.. " Semangat" itu hanya sebuah kata yang terdiri dari beberapa huruf yaitu S-e-m-a-n-g-a-t! Tapi itu magis.. Kata itu bisa memberikan sebuah energi yang besar dan begitu memicu gairah hidup, walau sebenarnya tergantung juga.. siapa yang melontarkan kata itu kepada kita.. Seharusnya aku masih bisa merasa beruntung.. Ada secuil perhatian yang aku dapatkan untuk memulai hari ini..terlepas dari siapa aku dapatkan itu seharusnya tidaklah begitu penting,tapii... Ah peduli dengan hal itu.. Hari ini harus tetap aku lalui.. masalah cerah atau suramnya suasana perasaan ini tidak bisa dijadikan alasan untuk aku menghentikan ragaku menjalani hari.. Walau kepala ini terasa sangat berat karena kantuk yang biasanya kumanjakan, aku mulai menyibakan selimut dan langsung beranjak duduk di pinggir ranjang.. Melihat sekeliling ruangan kamar.. letak barang2 yang sejak lama tertata seperti ini... Jendela kamar mulai memancarkan sinar matahari yang seolah memberi isyarat agar aku segera sigap untuk bergegas.. Hal yang paling enggan aku temui di pagi hari adalah yaaa menyentuh air dan persiapan lainya yang membosankan.. Hingga kini aku tepat berada didepan cermin.. Kulihat dengan telik bayangan diriku disana.. Masih sama tiada yang berubah.. Ya tapi apa yang dilihat tidak selalu sama dengan apa yang dirasakan... Seperti biasa dari kamar hingga ke kamar lagi.. Dari bangun tidur hingga tidur kembali.. Terus berulang dari hari Rabu sampai hari Rabu kembali.. Monoton..terus saja seperti ini bergulir membunuh waktu tanpa asa.. Tidak banyak yg berubah dari kegiatanku.. hanya saja mungkin akhir-akhir ini aku menjadi lebih sering menulis.. Membaca..dan lebih kritis menilai apapun yang aku lihat dengan kasat mata.. Banyak sekali yang ingin aku tuangkan dalam tulisan entahlah.. Semakin sering aku terdiam semakin banyak yang ingin ku tulis.. Semakin banyak ku menulis semakin lega perasaan ini.. Mungkin benar untuk bisa beropini dan mendeskripsikan suatu kejadian, kita harus melewati kejadian tersebut maka disitu kita akan paham.. Mungkin khalil gibran pun seperti itu seorang filsuf cinta.. Semakin banyak ia merasa sakit dan senang.. maka semakin banyak ia bisa berfilsafah tentang rasa.. Begitu tepat begitu nyata dan begitu terasa.. Haha untukmu yang sedang sibuk..dengan rutinisan harianmu yang selalu merampas hampir seluruh waktumu untuku... selamat hari rabu.. Selamat berceria.. Selamat bersemangat! 051212

TERLANJUR

Kau yang mengenalkanku rasa senang, sering orang bilang namanya "cinta"
Walau sekarang kau t'lah lepas tangan dan tak pernah tanggung jawab
Ya aku terlanjur jatuh cinta padamu, awalnya kupasrahkan hatiku di tanganmu
Walau aku tau cepat atau lambat pasti akan kau lukai
Saat putus cinta, bukanya satu satunya obat yang bisa menyembuhkanya adalah jatuh cinta lagi?
Terus berulang... Jatuh dan bangun... Pertemuan dan perpisahan
Obat jatuh cinta bagiku itu seperti Mengatasi masalah dengan masalah
Aku tak bisa membiarkanku sendiri setelah kau tak sendiri
Seolah terlihat setia tentang kisah kita
Serba salah...
Ada rasa yang sulit untuk kujelaskan saat semua orang tau kau telah bahagia bersamanya
Tolong aku benci dikasihani orang lain
Aku benci tatapan iba mereka terhadapku
Dengan kau yang t'lah berpaling dan aku yang masih sibuk menyembuhkan luka sendirian
Bukan berarti aku tersiksa dan masih terlalu setia pada kisah dan janji kita
Aku hanya tidak bisa membiarkan hatiku kembali dicuri oleh orang yang tidak bisa menjaganya
Contohnya, kau!
Ya itu lumrah... Air mata tan tawa datangnya selalu bersamaan
Satu manusia yang bisa dijadikan sebab mengapa hal itu dapat kurasakan sekaligus
Kau tersangka atas hancurnya hati ini, kembalikan utuh hatiku brengsek!
Kau pun pahlawan yang telah membuat hidup ini berwarna, tapi dulu...
Cukup satu manusia untuk bisa memberikan banyak rasa
Sebesar apa rasa kebahagiaan yang kudapat darimu
Akan aku tebus dengan rasa kehilangan yang sama besar setelah kau pergi
Itu impas!
Sialnya yang namanya luka pasti selalu menyisakan bekas
Dalam kelengahanku kau bawa terbang hatiku semakin tinggi dan aku nikmati itu
Dan tiba saatnya kau mulai jengah dan menghempaskan hatiku terjatuh hingga tenggelam sangat dalam
Lebih dalam dari sebelumnya hati itu tersimpan dalam keadaan luka yang pernah kau sembuhkan dulu
Kini kau pergi dengan mengabaikan hatiku yang tak lagi sempurna
Kau mencoba mencuri hati lain dan kembali mencoba menyembuhkanya karena telah rusak
Sama seperti keadaan hatiku saat terlupakan olehmu
Pengulangan kerap dilakukan
Entah berapa tetes air mata yang terjatuh karenamu
Kau tak menyiksaku dengan tanganmu yang mendarat di pipiku
Tapi kelakuan dan janjimu yang mungkin sudah kau lupakan itu, seolah menjelma menjadi sesosok yang selalu menghantuiku dan kusebut itu "kenangan"
Kau telah menyiksaku tanpa berdosa
Kau tak salah dan hatiku yang begitu riskan pun tak salah
Kodrat dan takdirnya sudah seharusnya seperti ini
Tidak ada yang bisa aku lakukan lagi untuk menjaga hatiku sendiri
Walau sudah kujaga dan kupasang rambu agar hati ini tak terluka
Jika memang sudah saatnya itu pasti terjadi
Manusia sepertiku bisa apa
Wanita cantik diluar sana pun tak jarang yang menangis karena kecewa dan sakit hati
Apalagi aku dengan keadaanku yang seperti ini
Untungnya aku tau cara untuk menghibur diriku sendiri disaat genting seperti ini
Tuhan berikan aku rasa sakit agar bisa mengerti banyak hal
Mengerti bahwa hidup ini tentang rasa
Mengerti kalau tak bersamamu aku seperti berjalan menggunakan satu kaki
Mengerti arti kehadiran seseorang yang sering tak kuhargai
Mengerti kalau kau hanya pelantara kebahagiaan yang sewaktu-waktu akan beralih pada yang lainya
Mengerti maksud kelakuan dan janjimu yang sebenarnya
Mengerti semuanya tidak bisa terulang apalagi dengan orang yang sama
Dan sangat mengerti bahwa pada dasarnya semua pria itu pasti memiliki rasa yang cenderung sementara
Satu manusia, satu kisah, satu masa, dan jutaan  rasa