Senin, 18 Maret 2013

Arti Amarah

     "Jeleeeeeeek, mukamu jelek ditekuk seperti itu!"
     "Bodo!"
     "Dalam keadaan biasapun kau terlihat jelek, apalagi ditambah murung seperti itu"
     "Siapa dia?"
     "Dia?"
     Aku memilih diam untuk membuatnya lelah berpura-pura telah melupakan kejadian tadi.
     "Cemburu?"
     "Jawabanmu sama sekali nggak nyambung." Aku membalikan badan agar tidak lagi saling bertatapan denganya.
     "Rupanya ada yang terbakar nih."
     "Candamu murahan, sama seperti kelakuanmu saat merasa keren mengenal banyak wanita cantik tadi!"
     "Karin... Apakah untuk mengakui cemburu itu sangat hina dimatamu, sampai-sampai.. ?" Dinal bangkit dari posisi duduknya yang semula dan mulai duduk dibawah bangku taman sambil melihat wajahku dari arah bawah.
     "Tidak suka itu lain dengan cemburu! Apa kamu tidak mengerti?"
     Dinal terdiam. Beberapa menit dia hanya memandangiku sambil tersenyum menggoda.
     "Aku capek, aku ingin pulang!"
     "Nggak!"
     "Tapi aku ngantuk. Kenapa engga?"
     "Karena aku capek kalau harus mengantarmu pulang sekarang"
     "Kamu bohong!"
     "Kamu juga! Aku mengenalmu bukan dalam hitungan hari tapi berbulan-bulan, harusnya kamu sadar itu. Kamu tidak akan pernah bisa membohongiku karena aku tau semuanya tentang kamu." 
     "Yakin?"
     "Aku tau kapan kamu bohong, kamu ngantuk, kamu senang, sedih, takut." Tawanya terlihat yakin.
     Aku menggelengkan kepalaku sangat tegas. "Bahkan dalam waktu 10 tahun pun aku tidak yakin kamu bisa mengerti aku sepenuhnya. Untuk perkara kecil pun kamu tidak pernah peka apalagi lebih dari itu. Kamu payah! "
     "Baiklah, katakan apa salahku?" Aku memalingkan wajah darinya. Aku kesal sangat kesal. "Selalu seperti ini, andai ada rumus pasti untuk mengertimu pasti akan aku pelajari. Aku tidak akan pernah bisa mengerti kebisuanmu. Katakan sesuatu!"
     "Diamku saja tidak kau mengerti apalagi perkataanku. Kamu payah!" Dinal benar-benar menyebalkan dalam keadaan seperti ini pun ia tidak tau apa yang seharusnya ia lakukan. "Aku pulang sendiri, semoga kamu bisa lebih berinisiatif!" Aku mulai bangkit dan berjalan seorang diri tanpa memaksanya mengantarkanku pulang seperti biasa.
     "Akan aku coba ya, hati-hati dijalan!" 
     Langkahku terhenti. Kini kurasa darahku mengalir sangat deras ke seluruh tubuh, tanganku mulai mengepal sampai buku-buku jariku memutih karena tidak ada aliran darah yang mampu masuk kedalamnya.    "Kamu brengsek!"
     "Tunggu!" seru Dinal sambil berlari menghampiriku. "Apa kamu bilang?"
     "Brengsek!" tegasku sekali lagi.
     "Untuk berkata brengsek saja kamu bisa selantang itu, tapi untuk melontarkan kata sayang kamu tidak pernah seberani itu. Kamu tau? Kamu lebih payah!" katanya sambil tersenyum sinis.
     Kali ini aku tidak menjawab apapun. Aku hanya bisa membisu dan mematung dihadapanya.
     "Kalau saja kamu bisa sedikit lebih jujur mungkin aku akan lebih mengerti." Tangan Dinal memegang erat tangaku jemari tanganya terasa hangat menyentuh jemari tanganku. "Tapi, aku akui kamu memang hebat, apalagi dalam hal menahan gengsi dan aku bisa apa. Tapi sudahlah sekarang kita pulang saja" ajak Dinal dengan nada melesu.
     Dengan rasa malu aku mulai berusaha  tersenyum untuk membalas senyumnya kepadaku. "Aku nggak mau aku... masih mau sama kamu."
     "Tanggal berapa ini? Tolong catat ya!" seru Dinal. Wajahku menoleh ke arah Dinal karena tidak mengerti harus mencatat soal apa. "Dari awal ini pertama kalinya kamu menolak ajakan pulangku dengan jawaban yang sebenarnya, biasanya alasanmu tidak jauh dari kata malas pulang"
     Aku tertawa. Dinal pun ikut tertawa, dan kamipun tertawa bersama-sama memecah situasi yang sempat mencekam tadi. 
     "Mulai sekarang kita belajar, sama-sama belajar ya!"


Belajar untuk bisa lebih mengerti arti dari sebuah amarah. Belajar untuk berani berkata jujur dan mengakui kecemburuan pastinya :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar