Sabtu, 16 Maret 2013

Misperceptions



Suasana salah satu cafe yang berada di tengah-tengah kota ini sangat ramai pengunjung, tapi tetap memiliki suasana yang tenang dengan alunan musik akustik dan sorot lampu-lampu berwarna redup, tetap tampak terlihat jelas situasi dan keadaan di tempat itu mulai dari pemandangan pasangan anak muda yang sedang mengobrol hingga pelayan yang dengan sigap berlalu-lalang melayani setiap pengunjung cafe ini.

Aku terdiam sejenak tepat didekat pintu masuk cafe dan mulai melihat sekeliling sambil melipat kedua tanganku. Hingga detik ini aku masih tidak mengerti hal bodoh apa yang sedang aku lakukan, kucoba meneruskan langkahku untuk masuk lebih dalam ke ruangan cafe berjalan menyusuri beberapa meja tanpa menoleh pada seorang pun yang saat itu sedang melihat kearahku. Besar harapan semoga malam ini tidak ada seorang pun yang berada di cafe ini menyapaku entah itu teman atau siapapun. Niatku hanya satu, melepaskan semua amarah yang telah menguasai batin ini sejak tadi siang. Rupanya pria itu sudah duduk di meja yang biasanya kita tempati “dulu”.
“Hai mba Kanaya. Kabar baik?” Sapa pria itu dengan wajah sumringah dan segera berdiri dari tempat duduknya untuk menyambutku yang baru datang.
Aku menghela nafas panjang dan mulai duduk berhadapan dengan pria yang sudah mengungguiku sejak tadi, sejenak aku terdiam dan mulai terpana dengan penampilanya. Benar-benar nyaris tidak ada yang berubah, sekilas pria itu masih sama dengan seseorang yang kukenal “dulu”. Suaranya yang sedikit serak, kemeja biru dongker yang dia kenakan, dan paras wajahnya yang selalu membayangiku setiap malam sebelum aku tidur. Jujur aku sangat merindukanya apalagi aroma parfumnya yang sangat khas sekali itu membuatku hampir tak kuasa menahan diri untuk segera memeluk dan membiarkan aromanya menempel di baju yang kukenakan seperti biasanya, tapi itu “dulu”.
“Minum?” tawarnya sambil menyodorkan menu yang berada diatas meja ke arahku.
“Terima kasih tapi aku nggak haus,” jawabku datar sambil menatap kearahnya sedikit sinis. “Raka itu teman kamu?” tanyaku sambil menyibakan poni ke arah samping.
Jelas terlihat roman muka pria itu berubah drastis dan nafasnya seperti tercekat seketika saat mendengar pertanyaanku yang tiba-tiba itu. Raut mukanya menjadi tegang dan gerakan telapak tanganya bergerak tidak beraturan seperti sedang bingung harus menanggapi pertanyaanku, tak sepetah katapun dia mampu untuk menjawabnya. Matanya melihat kearahku mulutnya pun sedikit menganga, dengan keadaan seperti itupun dia masih terlihat sangat tampan.
“Jawab Dika!”, tegasku sambil mengarahkan tatapan mata yang tajam kepadanya. “Dika tolong! Apa belum cukup permainan yang kamu buat beberapa saat lalu? Yang berhasil membuat aku tersiksa menahan kekecewaan hingga saat ini, menyembuhkan luka sendirian, menahan kesedihan didepan semua orang. Menahan tubuh ini agar tetap tegak berdiri saat melihat kamu menggenggam tangan seseorang yang bukan lagi tangaku?”
Rahangnya tetap telihat kokoh dan hidung bangirnya tampak jelas dengan ekspresi serius saat berkata .“Tapi dia orang baik, aku jamin itu. Bahkan lebih baik daripada aku,” jawabnya polos.
Plaaaakkkkkkkkk.... kurang dari 10 detik saja tanganku sudah mendarat di pipinya. Kutarik nafas dalam-dalam untuk berusaha menahan emosi dan air mata yang mulai membuat mataku buram seperti akan segera terjatuh membasahi kedua pipi. Tidak! Aku tidak boleh terlihat lemah, aku tidak harus menangisi hal seperti ini.
“Naya, apa kamu tidak bisa bicara dengan baik-baik?”
“Aku hanya bisa bicara baik-baik dengan orang baik-baik Dik!”
“Apa pantas kamu berlaku seperti itu pada orang yang kamu kenal?”
“Asal kamu tau hanya pada kamu aku berani melakukan itu”
“Hanya aku? Kenapa?”
“Iya! Karena hanya kamu yang pantas menerimanya. Setelah semua yang telah kamu lakukan Dika, kamu lupa?”
Kini Dika kembali menunduk, tanpa berkata apapun ia kembali menggerakan kedua telapak tanganya dan kali ini sangat tidak beraturan.
“Maksud kamu apa dik? Kalau Raka lebih baik dari kamu hubunganya dengan aku apa?”, kataku terhenti karena sudah tidak sanggup menahan air mata yang mulai turun. Dengan cepat aku segera menyembunyikan kesedihanku dengan memalingkan wajah ke arah kanan beberapa saat sampai kembali berani menatap mata Dika. “Kalau kamu nga sayang aku nggak apa-apa, tapi tolong jangan seperti ini , kamu seakan-akan buang aku setelah nggak kamu butuhkan lagi!”
“Maaf! Tapi aku hanya ingin kembali melihat kamu tersenyum Naya. Aku telah merampas habis seluruh kebahagiaan yang kamu punya, karena aku Naya!”
“Bodoh!”
“Nanya, aku menyesal!”
“Percuma.”
“Tapi, aku menyesal! Menyesal dan menyesal! Sangat menyesal!”
“Cukup 5kali! Penyesalan kamu nggak ada gunanya, percuma.”
“Tapi... kamu pernah bilang kalau aku harus tanggung jawab buat semuanya, bisa buat kamu kaya dulu lagi ketawa-ketawa lepas lihat kamu seneng lagi. Aku mau kamu....”
“Omong kosong! Emang kamu peduli?”
“Naya....please!”
“Dika please, motivasi kamu bikin aku seneng dengan ngasih cp aku ke temen kamu Raka gitu? Kamu pikir aku percaya?” ucapku ketus. Kali ini aku benar-benar tidak sanggup lagi menahan emosi yang begitu meluap-luap sejak tadi.
“Asal kamu tau Naya, Raka yang minta bukan aku yang tiba-tiba kasih!”
“Apapun alasanya! Nggak seharusnya kamu seperti itu, tolong jangan berlaku bodoh lagi!”
Rasanya aku ingin segera meninggalkan Dika di tempat itu entah kenapa dada ini terasa sangat sakit dan sesak, penglihatanku mulai buram tidak mampu lagi melihat apapun dengan jelas. Aku sangat bingung entah apalagi yang harus aku katakan kepada Dika, tapi kali ini perasaanku sedikit lega karna telah mengungkapkan semua kekesalan yang selalalu mengganjal selama ini. Semenjak ada Raka yang awalnya mengaku mengetahuiku dari salah satu temanya yang tidak lain adalah Dika, seseorang yang telah berhasil menggoreskan luka teramat dalam dan masih sangat membekas hingga saat ini.
“Mulai sekarang tolong, kita urusi hidup kita masing-masing dan jangan saling mencampuri. Terima kasih!”, tegasku sambil bergegas untuk pergi. Sebelum aku berhasil melewati Dika yang berada tepat di depanku, tiba-tiba ia langsung menarik lengan tanganku dengan sigap seolah memberi isyarat agar aku bisa segera kembali untuk duduk. ”Sekarang apalagi?”
“Lihat ini Nay”,seru Dika sambil menyodorkan ponsel miliknya kearahku. Aku terdiam dan mulai membaca kalimat yang sedang coba ia perlihatkan di ponselnya. Rupanya sebuah archieve chat massanger aku dengan dia “dulu”.

“Naya: Terima kasih Dika! Kamu tau? Naya sangat beruntung bisa mengenal kamu. Tidak terhitung berapa tawa kebahagiaan yang telah kamu ciptakan malam ini dan sebelum-sebelumnya, itu cukup menjadi alasan kenapa Naya selalu bisa bahagia dan tertawa saat bersama Dika. Hanya dengan Dika! Iloveyou badutku
Dika : Kembali kasih! Jangankan menjadi badutmu, menjadi apapun aku mau kalau untukmu Naya.”
         
   “Aku cuma mau lihat Naya bisa seperti dulu lagi, aku pikir mungkin Raka bisa membuat Naya kembali tertawa dan seneng kalau Naya sama dia. Aku kenal Raka dia baik, dia humoris semua kriteria yang kamu suka ada pada diri Raka. Sebenarnya sudah lama Raka minta aku kenalkan dengan kamu, tapi awalnya aku marah aku nggak rela. Aku cemburu!”
                “Dan akhirnya?”
                “Akhirnya setelah dipikir baik-baik aku nggak mau egois, aku mau lihat Naya seneng walau aku harus nanggung sakit hati. Cuma itu yang aku mau, nggak ada maksud apapun lagi sumpah,” jelasnya dan kini ia mulai menggenggam kedua tanganku seolah memaksaku untuk percaya.
“Kalau kamu mau buat aku seneng Dik, pake tangan kamu sendiri!”
                Tidak terasa malam pun sudah sangat larut dan aku memutuskan untuk segera pulang sendiri tanpa menerima tawaranya untuk mengantarkanku, dengan membawa jawaban yang jelas dari mulu Dika mungkin seterusnya aku akan lebih bisa menguasai perasaanku yang selalu bertanya-tanya tentang semua maksud yang selama ini ia lakukan terhadapku.
I just want you Dik, no their!”, kesahku dalam hati sambil pergi meninggalkannya.
Ternyata tidak selamanya niat baik bisa bisa diterima dengan baik. Pengorbanan ;melihatnya senang walau dengan orang lain; itu terkadang tidak diperlukan selama yang diharapkanya bukan orang lain melainkan orang yang berkorban itu sendiri, bahkan adalah sebuah kebodohan besar bila merelakan sesuatu yang seharusnya diperjuangkan.

                                                       ♫♫♫♫♫♫♫♫♫♫♫♫♫
 I don't know why I'm scared, I've been here before
Every feeling, every word, I've imagined it all,
You never know if you never try
To forgive your past and simply be mine

I dare you to let me be your, your one and only
Promise I'm worthy to hold in your arms
So come on and give me the chance
To prove that I'm the one who can
Walk that mile until the end starts

If I've been on your mind
You hang on every word I say
Lose yourself in time at the mention of my name
Will I ever know how it feels to hold you close?
And have you tell me whichever road I choose you'll go
♫♫♫♫♫♫♫♫♫♫♫♫

Tidak ada komentar:

Posting Komentar