Take care
yourself, for me :)
Sore itu aku
kembali bertemu dengan Dimas di sebuah resto tempat favorit kita berdua, entah untuk keberapa kali kita kemari karena
tak pernah ku hitung, yang pasti lebih dari belasan bahkan puluhan. Disini kita sering saling bercerita
tentang hal apapun, waktu tak terasa terus berjalan dan lusa hampir dua tahun
sudah kita menjalani sebuah komitmen . Aku nyaman bersamanya sejauh ini, hanya
saja...
“Riva tolong
jaketku!” seru Dimas setelah dia selesai menghabiskan makananya. Aku segera
memberikan jaketnya yang saat itu sedang berada di pangkuanku. Tanpa banyak
bicara lagi Dimas segera mengambil rokok dan bensin yang berada di saku jaket
lalu kemudian membakar dan menghisapnya.
Aku hanya bisa
terdiam seperti biasa saat Dimas melakukan kebiasaanya itu, tanganku seolah
ingin merebut barang yang selalu ia hisap. Tapi bila aku melakukanya apa tidak
akan menimbulkan sebuah perselisihan atau aku dianggap tidak pengertian, kolot,
cerewet dan sebagainya. Beberapa kali pernah kucoba menyinggung tentang hal
tersebut untuk menyampaikan secara tidak langsung bahwa sebenarnya aku tidak
suka bila dia melakukanya terlebih lagi saat bersamaku.
“Kenapa diam terus
sih Riv?” Aku hanya tersenyum dan masih menyaksikan kegiatan yang saat ini
sedang dia lakukan. “Cerita dong apa aja atau.. Oh iya kemana aja kemarin
seharian?” tanya Dimas sambil terus menerus menikmati setiap isapan sebatang rokok
yang ia selipkan di jarinya.
“Kemarin aku
pergi ke rumah temen karena ayahnya meninggal, kasian diumurnya yang masih muda
dia harus menjadi anak yatim. Belum sempat
menyaksikan wisuda, menikah, dan merasakan senangnya menimang cucu” celotehku
tak berhenti tanpa peduli Dimas mendengarku atau tidak. “Kamu harus tau itu!”
“Meninggalnya
kena...”
“Jantung,
paru-paru, asma dan masih banyak lagi initinya komplikasi!” jawabku dengan
tangkas tanpa mebiarkan Dimas menyelesaikan pertanyaanya terlebih dulu. “Perokok
sih!”
“Umur siapa
yang tau kan Riva” responya dingin.
“Iyasih, tapi
sebenarnya bukan masalah itu juga” nadaku melemah karena kecewa dengan respon
Dimas yang seolah tidak sadar atau pura-pura tidak mengerti.
“Riva kamu
kenapa?” tanya Dimas yang saat ini mulai mendekatkan wajahnya padaku.
“Engga, tapi
aku suka mikir aja. Temanku itu kasihan dia kehilangan ayahnya saat masih kuliah,
tapi sebenarnya ada yang lebih malang lagi banyak anak kecil berumur dibawah 10
tahun yang masih butuh sosok seorang ayah untuk menjaganya , memberi perhatian,
dan kasih sayang.”
“Iyasih
kasihan, berarti kita harus banyak bersyukur karena lebih beruntung dibanding
mereka” senyum Dimas mengembang. Tapi kali ini aku benar-benar kesal terhadap
respon yang dia berikan tadi. Selanjutnya aku lebih memilih untuk diam dan
tidak banyak berbicara.
“Riva mau
kemana lagi kita?”
“Terserah!”
Dimas
manatapku keanehan terlukis sangat jelas ekspresi wajah dengan alisnya yang
mulai terangkat sebelah pada saat itu. “Kamu masih mikirin ayah orang? Kenapa
sih ko jadi empati berlebihan gitu. Lagian kenapa harus sedih toh ayah kamu
masih ada, terus liat didepan kamu masih ada Dimas.”
“Perasaan
istri saat suaminya meninggal itu pasti sakit banget ya, mungkin rasannya seperti
berjalan dengan satu kaki. Dimas, Aku takut...” ucapku dengan nada pilu sambil
menatap dalam kearah mata Dimas.
Tanpa disadari
tangan Dimas sudah berada diatas tanganku, “Riva kamu ngomong apa?” tukasnya lembut.
“Dimas, aku
takut! Aku takut kalau nanti kamu adalah orang yang berada satu kursi di
pelaminan bersamaku. Yang aku takut bukan menjadi jodohmu, tapi kehilanganmu
setelah menikah nanti. Kamu tadi bilang umur kan siapa yang tau!” Pandanganku
kosong menerawang jauh kearah taman yang berada tepat didepan tempat duduku
dengan Dimas. “Aku engga mau menjalani semuanya sendiri dan aku engga cukup
kuat buat bisa lalui semuanya sendiri.”
“Kamu engga
akan sendirian, tapi berdua sama aku!”
“Dimas apa
kamu?”
“Apa? Aku
kenapa?” tanya Dimas sangat antusias.
“Apa kamu tega
biarin aku mikul beban sendirian? Kamu tega biarin aku nanggung sesuatu yang
seharusnya jadi tanggung jawab dan kewajiban kamu? Kamu nggak mau gitu ngurus
anak bareng aku sampai mereka besar? Nggak mau emang liat aku terus sampai muka
aku berubah jadi keriput? Emangya kamu nga penasaran?”
Dimas seperti
mendadak bisu beberapa saat, pelupuk matanya seolah menahan sesuatu yang akan
menetes. Aku benar-benar memasang wajah cemas dan ketakutan.
“Dimas, aku
bukan melarang sesuatu yang lumrah orang lakukan, itu wajar! Tapi tolong ini
bukan hanya untuk aku, tapi untuk kamu! Masa depan kamu! Dimas ingat semuanya masih sangat panjang, masih banyak orang yang membutuhkan kamu.
Jaga diri kamu baik-baik untuk istri dan anak-anak kamu nanti.” Kali ini aku
seperti sedang menceramahi anak yang baru duduk di Sekolah Dasar, sebisa
mungkin aku berusaha untuk membuatnya sadar dan mengerti bahwa kali ini aku
bukan sedang menuntut atau memarahinya namun sedang membimbingya agar bisa
membuka mata untuk melihat kedepan, yaitu masa depanya.
“Terima kasih
Riva! Aku... ”
“Aku tau itu
tidak mudah juga tidak sulit Dimas”, tuturku tidak kalah lembut dengan nada
suaranya. “Step by step, perlahan-lahan
semuanya kan butuh protes. Engga bisa langsung berhenti gitu aja kan? Aku ngerti,
tapi kurang-kurangin ya mulai sekarang.”
“Riva aku
engga tau setelah kamu, apa masih ada wanita lain yang mengatakan hal seperti
yang kamu katakan tadi.” gumam Dimas pelan.
“Aku engga
peduli siapapun pasangan kamu nanti, yang pasti kamu harus tetap bisa terus
bertahan lebih lama buat mereka, jangan egois sayang! Mereka butuh kamu untuk
waktu yang sangat panjang.” Aku tersenyum sambil menatap dalam matanya dan
mengatakan “I hope you forever!” Aku
mengelus punggung tanganya lembut, tersenyum hangat untuknya.
Dimas nampak
menghela nafas dalam, lalu ikut tersenyum sambil menepuk-nepuk pelan puncak
kepalaku kemudian menciumnya.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar