Rabu, 13 Maret 2013

PRAKARSA WANITA



Take care yourself, for me :)
Sore itu aku kembali bertemu dengan Dimas di sebuah resto tempat favorit kita berdua, entah untuk keberapa kali kita kemari karena tak pernah ku hitung, yang pasti lebih dari belasan bahkan puluhan. Disini kita sering saling bercerita tentang hal apapun, waktu tak terasa terus berjalan dan lusa hampir dua tahun sudah kita menjalani sebuah komitmen . Aku nyaman bersamanya sejauh ini, hanya saja...
“Riva tolong jaketku!” seru Dimas setelah dia selesai menghabiskan makananya. Aku segera memberikan jaketnya yang saat itu sedang berada di pangkuanku. Tanpa banyak bicara lagi Dimas segera mengambil rokok dan bensin yang berada di saku jaket lalu kemudian membakar dan menghisapnya.
Aku hanya bisa terdiam seperti biasa saat Dimas melakukan kebiasaanya itu, tanganku seolah ingin merebut barang yang selalu ia hisap. Tapi bila aku melakukanya apa tidak akan menimbulkan sebuah perselisihan atau aku dianggap tidak pengertian, kolot, cerewet dan sebagainya. Beberapa kali pernah kucoba menyinggung tentang hal tersebut untuk menyampaikan secara tidak langsung bahwa sebenarnya aku tidak suka bila dia melakukanya terlebih lagi saat bersamaku.
“Kenapa diam terus sih Riv?” Aku hanya tersenyum dan masih menyaksikan kegiatan yang saat ini sedang dia lakukan. “Cerita dong apa aja atau.. Oh iya kemana aja kemarin seharian?” tanya Dimas sambil terus menerus menikmati setiap isapan sebatang rokok yang ia selipkan di jarinya.
“Kemarin aku pergi ke rumah temen karena ayahnya meninggal, kasian diumurnya yang masih muda dia harus  menjadi anak yatim. Belum sempat menyaksikan wisuda, menikah, dan merasakan senangnya menimang cucu” celotehku tak berhenti tanpa peduli Dimas mendengarku atau tidak. “Kamu harus tau itu!”
“Meninggalnya kena...”
“Jantung, paru-paru, asma dan masih banyak lagi initinya komplikasi!” jawabku dengan tangkas tanpa mebiarkan Dimas menyelesaikan pertanyaanya terlebih dulu. “Perokok sih!”
“Umur siapa yang tau kan Riva” responya dingin.
“Iyasih, tapi sebenarnya bukan masalah itu juga” nadaku melemah karena kecewa dengan respon Dimas yang seolah tidak sadar atau pura-pura tidak mengerti.
“Riva kamu kenapa?” tanya Dimas yang saat ini mulai mendekatkan wajahnya padaku.
“Engga, tapi aku suka mikir aja. Temanku itu kasihan dia kehilangan ayahnya saat masih kuliah, tapi sebenarnya ada yang lebih malang lagi banyak anak kecil berumur dibawah 10 tahun yang masih butuh sosok seorang ayah untuk menjaganya , memberi perhatian, dan kasih sayang.”
“Iyasih kasihan, berarti kita harus banyak bersyukur karena lebih beruntung dibanding mereka” senyum Dimas mengembang. Tapi kali ini aku benar-benar kesal terhadap respon yang dia berikan tadi. Selanjutnya aku lebih memilih untuk diam dan tidak banyak berbicara.
“Riva mau kemana lagi kita?”
“Terserah!”
Dimas manatapku keanehan terlukis sangat jelas ekspresi wajah dengan alisnya yang mulai terangkat sebelah pada saat itu. “Kamu masih mikirin ayah orang? Kenapa sih ko jadi empati berlebihan gitu. Lagian kenapa harus sedih toh ayah kamu masih ada, terus liat didepan kamu masih ada Dimas.”
“Perasaan istri saat suaminya meninggal itu pasti sakit banget ya, mungkin rasannya seperti berjalan dengan satu kaki. Dimas, Aku takut...” ucapku dengan nada pilu sambil menatap dalam kearah mata Dimas.
Tanpa disadari tangan Dimas sudah berada diatas tanganku, “Riva kamu ngomong apa?” tukasnya lembut.
“Dimas, aku takut! Aku takut kalau nanti kamu adalah orang yang berada satu kursi di pelaminan bersamaku. Yang aku takut bukan menjadi jodohmu, tapi kehilanganmu setelah menikah nanti. Kamu tadi bilang umur kan siapa yang tau!” Pandanganku kosong menerawang jauh kearah taman yang berada tepat didepan tempat duduku dengan Dimas. “Aku engga mau menjalani semuanya sendiri dan aku engga cukup kuat buat bisa lalui semuanya sendiri.”
“Kamu engga akan sendirian, tapi berdua sama aku!”
“Dimas apa kamu?”
“Apa? Aku kenapa?” tanya Dimas sangat antusias.
“Apa kamu tega biarin aku mikul beban sendirian? Kamu tega biarin aku nanggung sesuatu yang seharusnya jadi tanggung jawab dan kewajiban kamu? Kamu nggak mau gitu ngurus anak bareng aku sampai mereka besar? Nggak mau emang liat aku terus sampai muka aku berubah jadi keriput? Emangya kamu nga penasaran?”
Dimas seperti mendadak bisu beberapa saat, pelupuk matanya seolah menahan sesuatu yang akan menetes. Aku benar-benar memasang wajah cemas dan ketakutan.
“Dimas, aku bukan melarang sesuatu yang lumrah orang lakukan, itu wajar! Tapi tolong ini bukan hanya untuk aku, tapi untuk kamu! Masa depan kamu! Dimas ingat semuanya masih sangat panjang, masih banyak orang yang membutuhkan kamu. Jaga diri kamu baik-baik untuk istri dan anak-anak kamu nanti.” Kali ini aku seperti sedang menceramahi anak yang baru duduk di Sekolah Dasar, sebisa mungkin aku berusaha untuk membuatnya sadar dan mengerti bahwa kali ini aku bukan sedang menuntut atau memarahinya namun sedang membimbingya agar bisa membuka mata untuk melihat kedepan, yaitu masa depanya.
“Terima kasih Riva! Aku... ”
“Aku tau itu tidak mudah juga tidak sulit Dimas”, tuturku tidak kalah lembut dengan nada suaranya. “Step by step, perlahan-lahan semuanya kan butuh protes. Engga bisa langsung berhenti gitu aja kan? Aku ngerti, tapi kurang-kurangin ya mulai sekarang.”
“Riva aku engga tau setelah kamu, apa masih ada wanita lain yang mengatakan hal seperti yang kamu katakan tadi.” gumam Dimas pelan.
“Aku engga peduli siapapun pasangan kamu nanti, yang pasti kamu harus tetap bisa terus bertahan lebih lama buat mereka, jangan egois sayang! Mereka butuh kamu untuk waktu yang sangat panjang.” Aku tersenyum sambil menatap dalam matanya dan mengatakan “I hope you forever!” Aku mengelus punggung tanganya lembut, tersenyum hangat untuknya.
Dimas nampak menghela nafas dalam, lalu ikut tersenyum sambil menepuk-nepuk pelan puncak kepalaku kemudian menciumnya.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar