Selasa, 01 Januari 2013

KEPERCAYAAN


Isola Villa, saksinya!
Kupercepat langkahku menuju sebuah taman di kampus selepas perkuliahan selesai, langit mulai berwarna orange dan burung-burung yang berterbangan mulai mencari tempat untuk beristirahat. Kurasakan keringatku mulai keluar membasahi kening selama aku berjalan ke tempat itu, sebuah taman yang orang namakan Bareti itu terletak lumayan dekat dengan gedung sastra fakultasku. Ah! Kalau bukan karena Eva temanku, aku lebih memilih untuk pergi ke kantin dan membeli minuman segar dibanding datang ke tempat ini. Eva adalah teman yang baik dan selalu menolongku, sekarang giliranku yang harus membantu menolongnya.

Kini aku telah sampai di taman yang berada tepat di depan bangunan Villa Isola dengan nafas yang terenggah-enggah, mataku mulai menyisir sekeliling untuk mencari seseorang yang telah beberapa saat lalu menungguku di tempat ini. Kuhampiri salah satu tempat duduk yang berada di sekeliling taman ini, niatku untuk mengistirahatkan kaki yang sangat lemas dan pegal sejak perjalananku menuju kesini.

"Permisi! Perempuan dengan baju berwarna biru toska dan celana jeans, kau Diva?" tanya seseorang kepadaku.

Aku mengangguk sambil melihat kearahnya dan langsung memberikan sebuah buku yang dititipkan temanku Eva, "Ini bukumu! Eva memintaku untuk mengembalikanya padamu."

Tanganya mulai meraih buku tersebut, "Terima Kasih! Oh iya, aku Arya!", serunya sambil mengulurkan tangan dengan wajahnya yang ramah.

"Diva!", jawabku datar sambil berjabat tangan dengan Arya.
Arya kemudian duduk disebelahku, lalu ia segera mangambil kamera dalam tasnya.

"Anak sastra juga ya?", tanya Arya sambil mengarahkan lensa kamera pada beberapa bunga geranium yang berada disekitar taman.

Aku masih terdiam sambil melihat gedung Villa Isola yang berada tepat didepanku. "Ya! Eva terlalu sibuk untuk mengembalikan bukumu."

"Aku mengerti, seorang sekertaris di himpunan pasti akan sangat sibuk rapat ini itu, benarkan?"

"Tentu saja!", sahutku sambil menoleh ke arah Arya dan tidak sengaja kulihat ada tulisan Psikologi2010 di lengan baju sebelah kirinya. "Anak psikologi ada yang suka fotografi juga," gumamku pelan.

"Kenapa? Diva suka fotografi juga?", kata Arya sambil iseng mengarahkan lensa kameranya ke arahku.

Aku memalingkan wajah ke arah belakang beberapa saat dengan spontan, disana dapat kulihat beberapa mahasiswa yang sedang berada di taman yang sama denganku. Mereka nampak enjoy dengan kesibukanya masing-masing, mulai dari yang sedang berkumpul dengan teman sampai yang hanya menyendiri memainkan sebuah gitar dengan wajah yang serius seperti sedang mengulik sebuah nada. Hampir satu tahun aku menjadi mahasiswa di Universitas Pendidikan Indonesia yang di dalamnya terdapat taman seindah ini, tapi baru sekarang aku menyadari indahnya suasana sore di taman Bateri depan gedung Villa Isola yang  bergaya arsitektur art deco jaman Jepang dulu. Dari sini aku bisa melihat langit yang mulai berpadu warna dari biru hingga orange, bunga geranium yang bermekaran dan jalan raya Setiabudhi yang sedang lancar tanpa macet. Mulai saat ini aku sangat mengagumi suasana sore hari terlebih ketika berada di taman Bareti, sungguh aku sangat menikmati semua  ini.

“Hayo, liat apa?!”, suara Arya mengejutkanku.

Aku mulai kembali melihat ke arah Gedung Isola Villa, “Liat semuanya yang bisa kulihat. Kamu sering kesini?”.

“Hampir setiap sore seusai kuliah. Biasanya anak sastra dan seni selalu datang kesini kalau mereka ingin membuat sebuah karya, tempatnya sejuk dan tenang inspirasi akan mudah datang loh Div”.

Tanpa menjawab, aku mulai berdiri dan mendekati sebuah kolam yang tidak jauh dari tempat aku duduk. Benar Arya bilang, udara disini begitu sejuk disertai angin yang begitu konstan tertiup.

“Sempurna!”

“Jangan bilang kamu baru sadar sempurnanya tempat ini Div?”

“Sayangnya prasangkamu benar, kemana saja aku ini.”
***
Keesokan harinya seusai kuliah aku kembali mendatangi taman Bareti, keindahan suasana sore yang kulihat kemarin membuatku kecanduan untuk menikmatinya lagi. Kupilih tempat duduk yang sama dengan yang kemarin aku duduki, tempat yang sangat strategis untuk menyaksikan semuanya, kini aku mulia mengeluarkan buku catatan dan pulpen untuk menulis sesuatu. Aku tenggelam dalam kesendirianku menulis kata demi kata walau entah bertemakan tentang apa, yang jelas kuungkapkan semua yang ada di hatiku saat itu.

Tiba-tiba ada tangan yang menghalangi kertas tempatku menulis.

 “Serius banget sih mba!”

Dengan segera kututup buku catatanku. “Iseng banget sih.”

“Ah maaf deh, datang kesini lagi pasti kecanduan ya?”, goda Arya sambil tertawa kecil.

“Ini kampusku juga Arya, kamu keberatan?”

“Sensi sekali mba Diva ampun, aku takut....”

Aku tidak merespon godaan Arya, tanganku segera membuka kacamata dan menaruhnya.

“Cuek, dingin, dan tegas. Pas banget!”

“Maksud kamu? Pas apanya? ”, mataku mulai menatap Arya heran.

“Diva kebetulah aku sedang mencari perempuan berkarakter seperti yang aku sebutkan tadi, untuk tugas kuliahku dan kupikir kamu...”, ujar Arya sambil menaikan alis sebelah kirinya.

“Tunggu! Maksud kamu? Aku? Jadi bahan tugas kamu? Maaf banget cari yang lain saja”, jawabku tegas.

“Kenapa?”

“Pertama aku sibuk, kedua aku bukan perempuan cuek, ketiga aku bukan perempuan dingin seperti yang kamu katakan ! Kamu belum kenal siapa aku Arya.”

“Benar-benar pribadi yang menarik”, gumam Arya pelan.

“Terserah apa katamu. Sudah sore dan aku harus pulang, dah!” Aku mulai pergi meninggalkan Arya beberapa langkah.

“Baiklah, sampai jumpa besok ditempat yang sama perempuan cuek!” teriak Arya.

Langkahku terhenti seketika saat mendengar suara Arya dan langsung mebalikan badan menghampirinya kembali. “Wekwekwekwek, bebek kali cuek.”

Saat  itu tawa Arya benar-benar terpecah, aku tidak mengerti apa yang telah aku lakukan dan katakan padanya, sebenarnya aku merasa sedikit kesal karena sikapnya yang seolah serba tahu tentang diriku. 

Penyakit anak psikologi yang selalu berfikir kalau mereka selalu bisa membaca perasaan seseorang dari perilakunya.

“Yang aku tau seseorang tidak akan memasang muka sekesal itu ketika diledek kalau tidak merasa Div.”

Sepertinya aku mulai mengerti sekarang, ia seolah memancingku untuk kesal dan mengeluarkan emosi yang biasanya aku lakukan sehingga akan lebih mudah untuknya bisa mengenali watak diriku yang sebenarnya. Kali ini aku mulai memikirkan sesuatu, baiklah aku  ikuti permainanmu.

“Diva dari buku ilmu psikologi yang aku pernah baca, seseorang yang membatasi dirinya kepada orang lain itu sebagian besar karena adanya rasa takut akibat trauma besar yang pernah dialami. Mungkin kamu salah satunya, mau aku sembuhkan?”, lagi lagi Arya membujuku.

“Ohya.. Kalau memang kamu yakin dengan buku yang pernah dibaca itu, coba sembuhkan aku! Ingat jangan sampai malah menambah trauma yang ada!”, kataku dengan wajah menantang disertai senyum kecil yang menyimpan maskud terselubung.

“Jangan khawatir soal hatimu tidak akan aku tambah luka yang ada, gedung Isola Villa yang berada depan kita saksinya. Baiklah besok ditempat dan jam yang sama kita bertemu lagi, aku akan menyiapkan beberapa pertanyaan yang harus kau jawab untuk menganalisis terlebih dahulu, separah apa trauma yang pernah terjadi pada dirimu Diva.” Arya masih saja tertawa sambil melihatku.

Lelaki ini benar-benar merasa paling mengetahui segalanya, selalu saja menebak segala hal tentang diriku. Dia bilang aku trauma, terserahlah apapun itu dasar manusia yang merasa tahu segalanya. Kita lihat sepintar apa dirimu untuk menghadapi perempuan cerdik sepertiku.
***
Sepertinya aku sangat tidak sabar ingin menyaksikan apa yang akan Arya lakukan selanjutnya, kali ini entah kenapa aku begitu antusias untuk mengikuti apa yang telah ia intruksikan. Baiklah waktunya telah tiba, aku segera berjalan menuju taman Bareti dimana aku akan mengikuti permainan yang katanya untuk tugas kuliah, aku terlalu pintar untuk bisa mempercayainya begitu saja. Aku paham betul tipe lelaki seperti Arya, pasti ada maksud lain dari semua permintaanya, mungkin menarik perhatianku salah satunya. Mustahil ia berhasil melakukanya, aku benar benar celaka jika sampai hal itu terjadi.

Aku tak ingin datang ke tempat itu lebih dulu, biarkan saja ia menungguku. Beberapa saat kucoba mengulur waktu agar terlambat datang ke taman, kulihat terus jam ditangan hingga tiba juga saat yang menurutku tepat untuk segera pergi menemui Arya.

Setibanya di taman Bareti, aku mulai mencari sosok Arya yang belum kulihat sejak aku sampai ditempat ini. Perkiraanku salah, Arya tidak menungguku dan ternyata aku yang lebih dulu datang. Ah aku sangat benci menunggu. Seling beberapa menit sampai rasa kesal menunggu pun mulai datang, ada seseorang yang membisikiku dari arah belakang, tidak salah lagi aku tau siapa dia.

“Lagi nunggu siapa mba?”, bisik Arya dari belakang.

“Nunggu? Orang baru datang ko, kurang kerjaan banget sih kalau harus nunggu lama-lama.”

“Oke! Berhubung aku buru-buru, kita langsung mulai dari pertanyaan kesatu”, ucap Arya sambil memegang beberapa lembar kertas.

Tidak ada manusia yang lebih menyebalkan selain manusia yang membuat orang lain menunggu, ditambah lagi kelakuanya yang kali ini seolah berlaga orang paling sibuk sedunia. Kutanggapi beberapa pertanyaan yang 

Arya berikan dan kujawab dengan sangat hati-hati. Bibirnya mulai tersenyum memiliki banyak arti saat aku mulai sesekali menjawab pertanyaanya dengan diam terlebih dahulu, karena jujur pertanyaanya sangat membuatku kaget dan tidak menyangka sebelumnya. Pertanyaan yang yang sering orang tanyakan tapi ia cover dengan kata-kata yang lebih sulit untuk bisa aku mengerti, sepertinya ia tau betul apa yang selalu aku tutupi pada semua orang selama ini.

Entah berapa lama waktu yang aku habiskan untuk menjawab semua pertanyaan itu. Sebentar    lagi langit mulai gelap, aku pulang melewati tangga gedung Isola Villa seperti biasanya. Ketika aku telah sampai pada tangga gedung yang sudah mulai jauh dari taman, aku melihat sebuah gelang yang berada di salah satu anak tangga, lalu kuambil dan kuamati beberapa saat. Sepertinya aku kenal pemilik gelang ini, Arya yang beberapa hari kemarin selalu memakainya di lengan sebelah kiri. Tunggu dulu rupanya aku mengerti sekarang, ternyata sejak tadi ia telah lebih dulu datang ke taman ini dan menungguku dari atas tangga sehingga membiarkanku seolah datang lebih dulu. Sial ternyata Arya lebih pintar dariku, aku harus lebih berhati-hati lagi jangan sampai aku kalah cerdik untuk kedua kalinya.
***
“Diva makasih ya udah kasih bukunya ke Arya”, bisik Eva dari arah belakang.

“Enak aja makasih doang, cokelat tanda terima kasihnya mana?”

“Kebaikan itu asal iklhas pasti ada ganjaranya, lo pasti dapet lebih dari sekedar cokelat buat kali ini. Percaya deh pokoknya!”

“Misalnya?”, tanyaku sambil menaikan alis sebelah kiri dan berbalik ke arah Eva.

“Arya misalnya!”, sahut Eva sambil tertawa kecil dan mencolek daguku.

Saat itu tawa kami terpecah sangat keras dalam kelas sehingga membuat semua teman yang ada di sekeliling melihat ke arah kami berdua. Sepanjang perkuliahan berlangsung entah apa yang terjadi aku mulai memikirkan ucapan Eva tadi, tentang Arya dia lumayan menarik juga. Rasanya ingin cepat sore untuk segera kembali mendatangi taman Bareti tempat dimana aku bertemu dengan Arya untuk pertama kali.

Dengan berlari-lari kecil seusai kuliah selesai, aku kembali menghampiri sebuah tempat duduk  yang berada tepat di depan gedung Isola Villa. Hari ini aku tidak mempunyai janji untuk bertemu dengan Arya, tapi bukanya ia selalu datang ke tempat ini setiap sore. Beberapa menit aku terdiam memandangi bunga-bunga geranium yang tumbuh disekitar tempat aku duduk, kemudian aku mulai mengeluarkan buku dan pulpen untuk meneruskan tulisanku yang sejak beberapa lama aku kerjakan. Kupakai kacamataku dan langsung menulis dengan serius ditemani angin yang terus bertiup memainkan rambutku.

“Wow lihat! Seorang yang cuek pun terlihat sangat cantik di kameraku”, kata Arya yang langsung duduk disebelahku sambil memperlihatkan hasil gambar yang telah ia ambil.

Kulirik pelan-pelan kamera Arya, terlihat sangat jelas ada wajahku yang sedang menulis. “Sejak kapan ada disini?”, tanyaku tanpa melihat wajah Arya.

“Sejak kau datang memandangi bunga geranium. Lihat ini Diva!”, ujar Arya sambil memperlihatkan beberapa gambar yang mungkin ia ambil dari kejauhan saat aku mulai duduk ditempat ini.

“Ambil gambar orang tanpa izin, bagaimana kabar tugasmu?”

“Salahkan wajahmu yang cantik Diva, membuatku ingin mengabadikanya dalam kamera. Tugasku masih dalam tahap awal.”

Tanganku mulai berhenti menulis ketika Arya berkata seperti itu dan menutup muka dengan buku yang aku pegang agar senyumku yang tersipu malu saat itu tidak terlihat oleh Arya.

“Kapan seharusnya tugas itu selesai? Mengapa kau tidak mengerjakanya dari sekarang?”

“Aku sedang mengerjakanya sekarang!”

“Sekarang?”

“Ya, sekarang aku sedang berusaha mengerjakanya. Sebenarnya tugasku adalah membuat seseorang  yang cuek, dingin, dan tegas disebelahku ini menyukaiku.”

“Sudah kuduga lelaki sepertimu mana mungkin memikirkan tugas! Ohya.. ini gelangmu, mungkin terjatuh saat kau menungguku di atas tangga gedung Isola Villa kemarin. Lain kali yang rapih kalau ingin terlihat terlambat.”

Arya tersenyum seperti sedang menyembunyikan malu.

“Namanya juga usaha untuk mendapat perhatian kamu Diva, aku ingin tau kau akan menungguku atau tidak!”

“Sebebnarnya usahamu telah berhasil sejak awal”, seruku dalam hati.

“Maaf aku tidak bermaksud mempermainkanmu, aku hanya menyukaimu. Apa itu salah?”
Tanganku  mulai membuka kacamata dengan berlaga tidak menghiraukan perkataan Arya.

“Aku tidak tau harus dengan cara apa agar bisa dekat denganmu, kamu terlalu sulit dan membatasi diri dari siapapun. Maka aku melakukan cara itu, maaf!”

“Telah aku maafkan, woles! Tapi ada syaratnya, bantu aku menyelesaikan tugas. Jika kau setuju besok seperti biasa di depan gedung Isola Villa dan tidak usah berlaga terlambat.”

“Baiklah aku janji akan tepat waktu, Isola Villa sebagai saksinya!”
***
Kupandangi terus seorang lelaki yang tampak sedang menungguku disana, dengan kaos hitam pun ia masih sangat terlihat keren. Rambutnya yang selalu ia mainkan dan rapikan ke arah belakang itu selalu aku ingat semenjak aku pertama kali bertemu denganya. Keindahan sore akan segera pergi digantikan gelapnya malam dan lelaki itu masih saja menungguku, dengan mengendap-ngendap kuhampiri dirinya dari arah belakang.

“Terima kasih kau telah membantu tugasku!”, ucapku sambil menepuk bahu kirinya.

“Diva?”, teriak Arya terkejut.

“Tugas penelitianku telah selesai dan sudah bisa diambil kesimpulanya, Arya adalah seorang yang tepat waktu dan tidak ingkar janji. Gedung Isola Villa saksinya.”

“Jadi tugasmu?”

Kami berdua pun saling berpandangan beberapa lama, lalu tertawa bersama menghabiskan waktu sore hari di depan gedung Isola Villa.

Hari-hari selanjutnya aku sering menghabiskan waktu bersama Arya di taman Bareti itu, untuk mengambil beberapa gambar, menulis, dan berbagai hal lainya. Tidak satu hari pun kami lewatkan untuk saling bertemu dan membawa hal yang baru. Aku mulai mengenal sosok Arya yang sebenarnya sekarang, mengapa tidak dari waktu itu Eva memintaku mengantarkan bukunya pada Arya.

Sore yang cerah seperti biasanya musim sangat bersahabat mengiringi pertemuan demi pertemuanku bersama Arya. Kali ini tidak ada lagi pura-pura terlambat untuk mengetahui perasaan yang ada satu sama lain, kami sudah saling mengerti tanpa harus mengatakanya. Aku menyukai Arya yang juga menyukaiku. Hatiku yang sengaja kututup rapat-rapat  untuk siapapun mulai terbuka untuk Arya.

Sepertinya ada suatu hal yang tidak bisa Arya tinggalkan sore ini sehingga ia tidak datang untuk menemuiku. Aku mulai pergi meninggalkan taman Bareti dengan wajah kecewa, padahal aku telah membawakan beberapa makanan yang sengaja aku buat untuk Arya.
Seminggu berlalu dan Arya tidak datang seperti biasanya ke taman Bareti, aku selalu menunggunya setiap hari. Celaka  mungkin aku mulai merasa rindu dan menyukai Arya yang sekarang entah berada dimana. 

Tiba-tiba ponselku berbunyi dari dalam tas seperti ada sebuah pesan masuk, dengan segera aku memeriksanya. Rupanya sebuah pesan yang disertai gambar dari temanku Eva, gambar apa ini membuat aku semakin penasaran.

“Diva ini jawaban kenapa si Arya selama seminggu ini nggak datang ke taman Bareti untuk menemuimu seperti biasanya!”

Dengan jelas aku lihat pesan yang baru saja Eva kirim, ada sebuah gambar dengan dua orang didalamnya dan satu diantaranya aku kenal betul siapa dia.

“Arya?”, teriaku pelan seolah tidak percaya.

Dadaku tiba tiba seperti tertusuk pisau belati yang sangat tajam, yang aku lihat sekarang ini maksudnya apa. Sebuah gambar Arya bersama seorang perempuan sedang duduk berdua dan berpegang tangan. Jam pengambilan gambarnya pun hanya beda beberapa menit dari sekarang, tepat saat aku menerima dan melihatnya.

Kali ini aku benar-benar merasa dipermainkan, walau aku tidak punya alasan atas dasar apa aku harus marah. Kita hanya berteman selama ini, tidak pernah ada satupun pernyataan yang jelas tentang hubungan kami selama ini. Tapi kenapa hati ini terasa seperti dikhianati, lalu  beberapa hari selama kita bersama itu maksudnya apa? Begitu banyak pertanyaan yang muncul dalam otaku, semakin aku memikirkanya bukan jawaban yang kudapat melainkan pertanyaanya yang lebih banyak bermunculan. Yang jelas hari ini gedung Isola Villa menjadi saksi, disini aku menanggung rasa kecewa dan sakit hati ini sendirian.
***

Beberapa minggu seusai kejadian itu aku sudah tidak mendatangi taman Bareti lagi pada sore hari, karena setiap kali aku melihat suasana disana muncul sebuah perasaan sakit hati dan kecewa yang sangat besar. Padahal selama ini aku sudah sangat menjaga perasaanku sendiri dengan sangat hati-hati, tapi apa daya jika memang sudah seharusnya hati ini sakit segala rambu yang aku persiapkan untuk menjaganya pun tidak bisa dihindari.

Aku lupa ini hari keberapa semenjak aku memutuskan untuk tidak mendatangi taman Bareti itu lagi, tapi kali ini aku mulai merasa kuat untuk kembali melihat suasanya taman itu. Langkah kaki mulai mengantarkanku menuju tempat duduk yang beberapa lama tidak aku hampiri, kulihat sekeliling dan semuanya masih sama tidak ada yang berubah sejak pertama aku duduk di tempat ini. Kegiatan mahasiswa yang meramaikan taman ini, bunga geranium yang bermekaran dan suasana sore yang sangat mempesona. Entahlah aku merasa iri dengan suasana sore hari yang indah ini, tetap bisa kunikmati segarnya udara sambil menatap gedung Isola Villa di depanku. Kembali kuhabiskan waktu sendirian di taman ini, aku mulai tenggelam dalam lamunanku saat itu sampai terdengar suara seseorang dari arah belakang yang membuyarkanya.

“Diva, kemana aja? Kamu lama tidak datang kesini.”

Wajahku masih menatap gedung tanpa menghiraukan pertanyaan Arya disebelahku.

“Apa kabar Diva?”

Beberapa saat aku hanya terdiam dan menunduk, “Baik! Jauh lebih baik dibanding beberapa minggu kemarin”, jawabku sinis sambil menoleh kearah Arya.

“Beberapa minggu kemarin? Memangnya kamu kenapa?”

“Kenapa? Kamu tanya kenapa ?!”

Arya menunduk dan mengepal kedua tanyanya sambil melihat lurus kedepan seperti bingung harus berkata apa, “Kalau kamu marah itu wajar, aku tau aku salah tapi....”

“Kamu tidak salah sama sekali, aku tidak ada hak sedikitpun untuk melarangmu melakukan apapun. Tapi kau pernah berjanji tidak akan menambah luka pada hatiku dan gedung  Isola Villa telah menjadi saksinya”, kataku tegas dengan memotong perkataan Arya yang belum selesai ia katakan.

Arya diam seribu bahasa.

“Kamu tau Arya aku telah mempercayakan hatiku ke tanganmu, yang dulu pernah kau bilang bisa menyembuhkanya. Ternyata caramu menyembuhkanya seperti ini?”

“Apa yang bisa aku lakukan untuk menebus semuanya? Akan aku lakukan!”

“Kembalikan!”

“Kembalikan?”

“Ya, kembalikan semuanya!”

“Semuanya?”

“Kembalikan kepercayaan yang pernah aku berikan untukmu. Kembalikan dan buatlah aku kembali tidak mempunyai rasa menyukaimu seperti semula. Kembalikan waktuku yang telah banyak kubuang untuk memikirkanmu.”

Arya hanya terdiam sambil menatapku dan mulai menyadari kekecewaanku terhadapnya.

“Apa kau bisa mengembalikanya untuku? Tentu tidak bisa Arya nasi sudah menjadi bubur. Jangan pernah kau mengucap janji yang tidak bisa kau tepati, perempuan selalu meningatnya. Mungkin bagimu kebersamaan kita beberapa waktu lalu itu biasa saja, tapi lain untuku Arya asal kau tau.”

“Saat kata maaf dan janji sudah tidak bisa kamu terima. Maka aku hanya bisa membuktikan penyesalanku, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya agar kita bisa memulai kembali dari awal dan melupakan semua yang pernah terjadi.”

Aku tersenyum ke arah Arya yang saat itu juga sedang melihat kearahku, “Aku sedang malas melakukan hal bodoh sekarang, mempercayaimu contohnya!”, tanpa pikir panjang aku mulai meninggalkan Arya di taman Bareti tempat dimana kami sering bertemu dan gedung Isola Villa kembali menjadi saksi. Di tempat itulah kami pertama kali betemu, saling mengenal, menghabiskan waktu bersama,  ada yang berjanji, ada yang ingkar, hingga akhirnya berpisah.  

Butuh waktu yang lama untuk membangun sebuah kepercayaan, tapi cukup hanya dengan beberapa detik untuk menghancurkanya. Mungkin dengan tidak pernah berjanji semuanya akan lebih baik dibanding mengingkarinya. Kepercayaan itu tidak bisa dikembalikan dengan cara apapun dan tidak semua orang beruntung untuk bisa mendapatkanya kembali.



 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar