Selasa, 01 Januari 2013

YANG TERLEWATKAN

NOSTALGIA SORE DI BRAGA


Senin pagi di Univesitas Pendidikan Indonesia

“Fir... Fira kuliah hari ini udah selesai kali!”

Suara salah satu temanku itu berhasil memecahkan lamunanku, sejak dosen berada di dalam kelas, aku hanya diam menatap kedepan seolah memerhatikan dengan tangan memegang pulpen dan buku catatan yang terbuka. Aku mulai merapikan alat tulisku dengan cepat dan asal. Tanpa pikir panjang aku mulai melangkahkan kaki ini keluar kelas dengan ekspresi wajah datar.

“Fira kamu kenapa? Sakit ?” tanya Gina sambil menarik lengan tangan kananku.

“Emangnya aku kenapa? Nggak apa-apa ko, tumben perhatian banget,” jawabku santai dengan disertai sedikit senyum memaksa agar lebih meyakinkan.

“Aku lihat hari ini kamu beda Fir, dari tadi pagi kamu datang langsung duduk di kursi paling depan deket dosen terus bengong dari awal sampai akhir, nggak ngomong, nggak nyapa, dan nggak buat rusuh. Itu bukan kamu banget Safira! “ jawab Gina panjang lebar dengan wajah penuh tanya.

Aku saat itu hanya tersenyum simpul, lalu segera pergi meninggalkan kelas dengan pandangan kosong melihat lurus kedepan.

Langkahku mulai menyusuri beberapa fakultas menuju rumah yang kebetulan sangat dekat dengan kampusku, hanya dengan berjalan kaki dalam waktu 15 menit aku bisa segera sampai tanpa macet. Tiba-tiba terdengar suara sepeda motor dan seseorang yang memanggilku dari arah belakang.

“Fira... aku cariin kemana-mana taunya disini. Kata Gina 2 minggu kamu nggak masuk kuliah. Kemana?” tanya Rama dengan kecemasan yang terlihat jelas diwajahnya.

“Kamu nyariin aku Ram? Aku pergi kemarin.”

“Liburan? Gayanya udah macam turis aja sih!”

“Bukan Ram, aku penat aja sama semuanya mulai dari suasana rumah, kelas, kampus. Aku coba cari suasana baru, kemarin aku tinggal dirumah sewaktu aku masih SD dulu,” jawabku sambil melihat sekeliling.

“Sekarang pasti masih penat kan Fir? Ayo naik ikut aku!” bujuk Rama seolah tidak membutuhkan jawabanku terlebih dulu.
***

Tuuuttttt.... Tuuuttttt.... Tuuuttttt....

“Ngapain kita ke stasiun kereta Ram?”

“Naik ketera lah Fir, kamu jangan banyak protes dulu ya. Ikut aja, aku yakin kamu nggak bakalan nyesel deh lagian kamu belum pernah naik kereta kan. Aku dulu pernah janji mau ajak kamu  mengitari kota Bandung, nah sekarang kita mulai dari sini Fir.”

Begitulah Rama seorang teman yang selalu mencoba membuat aku tidak merasa sendirian, temanku dari SMA yang satu ini walau kita berbeda kampus, tapi ia sering mengajakku pergi dan mengenalkan beberapa tempat yang belum pernah aku kunjungi di kota kelahiranku ini. Sejak lahir aku tinggal di kota Bandung, ternyata banyak sekali tempat yang belum terjajaki olehku, tapi semenjak kuliah Rama rajin sekali mengajaku pergi walau hanya untuk sekedar kuliner ataupun hunting foto di tempat-tempat yang menurutnya sangat menarik di kota Bandung.

Terakhir sebelum aku ke stasiun Bandung ini, Rama mengajaku ke lapang udara Bandara Husein Sastranegara, tempat yang biasa digunakan untuk mengambil foto dengan konsep backround  pesawat terbang yang sudah lama tidak digunakan dan beberapa gedung tua yang kebetulan lokasinya berdekatan. Tempat terakhir  yang aku dan Rama datangi sekitar 1 bulan  lalu sebelum akhirnya kita bertemu lagi hari ini. Waktu itu hari Jum’at aku ingat betul tepat setelah aku pulang bersama Rama dan pada malam harinya...
***

Sore ini cukup cerah dan aku baru saja sampai di kamar, dengan wajah yang lelah aku  langsung menjatuhkan diri di kasur sambil melihat jam di tangan kiriku, rupanya sudah jam 5 sore. Sepulang pergi bersama Rama dari Bandara Husein Sastranegara tadi aku baru ingat, malam ini Bari mengajaku untuk menemaninya pergi ke sebuah tempat makan di daerah Setiabudhi untuk sekedar mencoba makanan yang sangat populer disana, yaitu Surabi nama tempatnya Rumah Surabi Imoet. Dari anak hingga orang dewasa terutama mahasiswa sering sekali mengunjungi tempat itu untuk sekedar bertemu dengan teman, mengobrol, dan kuliner.

Tampak ada beberapa meja yang mungkin sudah lama ditempati oleh sekumpulan mahasiswa, kulihat sekeliling dan pandanganku mulai berhenti di salah satu meja dan disitu ada seorang lelaki yang terlihat sedang menunggu seseorang, aku kenal betul pemilik rambut yang tidak terlalu gondrong itu. Hari itu ia menggunakan kemeja kotak-kotak biru muda dan dongker sambil memainkan ponsel yang ia genggam ditangan. Ya itu Bari, aku segera datang menghampirinya sambil sesekali membenarkan baju yang aku kenakan saat itu. Kita mulai mengobrol dan memesan beberapa makanan, sesekali kita tertawa lepas entah itu karena membahas hal yang konyol atau hanya saling mengejek satu sama lain.  Kebetulan banyak sekali bahan yang bisa memecahkan tawa kami saat itu, contohnya seperti kelakuan Bari yang konyol tetapi tetap nature dan tidak dibuat-buat, mungkin karena itulah aku lebih tertarik padanya dibandingkan lelaki lain. Bari ialah sosok lelaki humoris yang kebetulan dipertemukan dengan aku yang menyukai lelaki berkarakter seperti itu.

Setelah beberapa lama kita mengobrol dan tertawa, saat ini Bari seperti benar benar ingin mengatakan suatu hal yang penting dan serius. Mungkin sebenarnya inilah inti dari tujuan dia mengajaku bertemu malam ini.

“Fira...engga tau kenapa setiap lagi bareng kamu, aku ngerasa seneng loh, aku harap kamu juga ngerasain hal yang sama. Selama ini kamu udah jadi temen yang baik buat aku, selalu memberi semangat dan perhatian. 

Aku mau kamu jadi lebih dari sekedar temen, aku...” ucap Bari terbata-bata sambil mencoba untuk tetap terlihat santai.

“Maksudnya? Pacaran?” tanyaku sambil mengerutkan alis.

“Setiap pesan singkat yang kamu kirim buat aku itu menjadi sebuah semangat dan jujur aku seneng banget saat kamu sesekali kasih perhatian buat aku. Semua itu udah membuat aku semakin merasa nyaman, Fir aku mau kamu terus lakuin hal itu sama aku. Semoga kamu ngerti maksudnya!”

“Iya..iya Bar, aku ngerti maksud kamu.. Pacaran?”

“Ya pacaran atau apapun itu yang pasti aku mau jadi sebab kamu bahagia setiap harinya,  aku mau jadi orang pertama yang selalu ngucapin selamat pagi saat kamu bangun dan selamat malam sebelum kamu tidur. 

"Fira, aku pasti seneng banget kalau kamu nga keberatan dan mau ngelakuin hal yang serupa sama aku. Aku tau kamu pasti bertanya-tanya atas apa yang aku minta sekarang  jujur sebenernya udah lama aku pengen bilang, Bari sayang  kamu Safira!”

Haaaaaa!!! Jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya dan mulutku spontan menganga beberapa detik, ya saat itu aku sangat berlebihan menanggapinya.

Setelah kurang lebih satu tahun lalu semenjak Malik pergi ke Jakarta untuk kuliah, ya dia adalah seseorang  yang pernah menjadi pensil warna di kertas kehidupanku, tapi itu dulu sebelum Malik pergi kuliah meninggalkan kota Bandung dan berjuta kenangan bersamaku. Demi mimpi Malik yang telah lama ia perjuangkan yaitu menjadi mahasiswa kedokteran di salah satu universitas negeri di Jakarta, kami memilih untuk mengakhiri semua keindahan yang pernah kami alami berdua dan aku hanya bisa mencoba untuk menjadi lebih mandiri dan kembali menjalani hari-hariku tanpa Malik. Kita tidak pernah bertengkar, sama sekali tidak pernah yang ada hanya kemesraan dan kenangan manis saat bersama, hubungan kami begitu indah nyaris sempurna tanpa cacat hingga pada akhirnya takdir mengatakan lain. Hidupku harus tetap berjalan dengan atau tanpa Malik. Selama ini aku tidak pernah berniat untuk cepat-cepat mencari pengganti Malik, aku lebih memilih untuk diam dan menunggu seseorang itu datang dengan sendirinya, terkadang aku hanya ingin sendiri menetralkan perasaanku yang cukup sulit untuk melupakan sosok Malik. Tapi akhirnya malam ini...

Aku hanya terpatung dan masih memikirkan perkataan yang baru saja Bari utarakan, mataku melihat wajah Bari yang juga melihatku, pandangan kita saling bertemu beberapa saat, hingga pada akhirnya Bari memanggil namaku dengan sangat pelan hingga membuatku mulai berhenti memikirkan dan membayangkan tentang kenanganku bersama Malik sekaligus bagaimana kehidupanku seterusnya jika bersama Bari. Saat itu aku benar benar tidak tau apa yang harus aku lakukan, yang jelas ada perasaan senang yang begitu besar dan sangat nyata, rasanya seperti melihat sebuah sinar yang memancar dari wajah Bari, seolah meyakinkan aku akan jawaban dari semua doaku selama ini, Siapapun dia datangkanlah jika memang dia bisa membuat hidupku kembali berwarna, membantuku melupakan semua kenangan indah yang kerap menyiksa ingatanku selama ini. Mungkin orang itu Bari, buktinya hati aku merasa senang dan sangat yakin saat Bari bicara seperti itu.  

 “Aku engga janji bisa memjalani sebuah hubungan yang sempurna dan selalu membuat kamu senang Bar, tapi kita coba ya...”

 Hanya  kata itu yang berhasil keluar dari mulutku mengalahkan segala kekalutan yang seakan membuatku kaku untuk berkata-kata. Entah apa yang saat itu aku pikirkan, yang jelas hanya ada bayangan kebahagiaan di hari-hari selanjutnya bersama Bari.
 ***

“Terima kasih Bari...Hati-hati dijalan!”

“Iya kembali kasih Fira, kamu berhasil membuat malam ini sangat indah dan bersejarah.”

“Semoga dengan adanya aku bisa membuat hidup kamu lebih baik begitupun sebaliknya. Jangan lupa kabari aku kalau sudah sampai rumah ya!”

“Iya..yang!” jawab Bari lembut sambil tersenyum.

Yang? Maksudnya itu sayang kan? Ya tuhan rasanya sudah berapa abad aku tidak mendengar panggilan itu di telingaku dan hari ini aku mulai mendengarnya lagi. Perlakuan-perlakuan istimewa yang sudah lama tidak kudapat dari seorang lelaki, akhirnya malam ini kutemukan lagi.

Seusai menunggu dan melihat kepergian Bari, aku langsung masuk ke dalam rumah dan segera menyiapkan diriku untuk istirahat. Aku mulai tenggelam dalam bayang-bayang sosok Bari malam itu, ya malam pertama dimana aku akan mendapatkan kembali ucapan selamat tidur dan mimpi indah dari seorang yang istimewa.

Tiba tiba ponselku bergetar, dengan cepat aku ambil dan mulai memeriksanya tentu saja sebuah pesan dari Bari. Malam itu kami mulai saling mengirim dan membalas pesan singkat sesaat menjelang sebelum tidur. Hari yang indah bukan, semoga ini adalah sebuah awal kebahagiaan yang nyata untuk aku dan Bari.

Pagi hari yang cerah matahari mulai bersinar, tapi hari ini tentu saja ada yang berbeda. Saat terbangun aku segera kembali memeriksa ponselku untuk sekedar mengirim pesan singkat pada Bari tapi kali ini rupanya aku telat, Bari lebih dulu mengirim ucapan-ucapan manis untuk memulai hari di pagi yang cerah ini. Hari ini aku merasa lebih bersemangat dari biasanya mungkin karena sekarang sudah ada Bari. Aku semakin yakin kalau Bari lah orang yang selama ini aku harapkan di setiap doa yang aku panjatkan. Siapa yang menyangka akan seperti ini, semuanya terasa begitu mulus dari awal aku mengenalnya dan bertemu hingga saat ini berpacaran.

Aku mulai melupakan sosok Malik yang selama ini selalu menghantuiku, selalu bertanya-tanya tentang apa yang Malik lakukan? Apa ia baik-baik saja? Sudah adakah yang berhasil menggantikan posisiku di dalam hatinya? Apa dia merasakan rindu ketika aku merindukannya? Ah entahlah, kami tidak saling berkomunikasi sejak lima bulan pasca kepergianya ke Jakarta, karena aku pikir untuk apa kami saling mengabari dan bercerita, itu hanya bisa membuatku semakin tersiksa oleh bayang bayang semu tentang Malik. Masih teringat dan terdengar jelas di telingaku saat pertama Malik membicarakan soal kepergianya untuk meneruskan kuliah di Jakarta.

Sedikit flashback, hari itu pengumuman SNMPTN jalur tertulis diumumkan. Kami berdua memutuskan untuk bertemu dan saling memberikan kabar baik atau buruk yang kami dapatkan setelah membuka pengumuman itu. Sore itu kami bertemu di sebuah mall yang berada di Bandung daerah Cihampelas, suasana mall saat itu sangat ramai mengingat hari itupun sedang weekend. Pastilah tempat ini penuh dikunjungi orang bahkan tidak jarang pengunjung dari luar Bandung pun ikut datang kemari untuk sekedar berjalan-jalan.

Malik menyuruhku menunggunya di tempat yang biasa kita datangi ya sebuah cafe yang berada di lantai atas mall ini, sehingga bila berada di tempat ini kita bisa melihat keadaan orang yang berlalu lalang di luar mall, sering sekali kita memperhatikan beberapa orang yang berada di bawah dan mencoba untuk menebak apa yang sedang mereka bicarakan tergantung dengan siapa mereka sedang berjalan. Itulah kebiasaan yang sering kami lakukan.

“Fira..maaf... jalanan Bandung macet parah Cihampelas, Sukajadi, Pasteur” ujar Malik sambil membenarkan rambutnya kearah belakang.

“Gak usah dibahas, udah basi dari dulu seperti inilah Bandung, jangan ngeluh! Gini-gini juga Bandung nyimpen banyak kenangan tentang kita.”

“Iya Fira kamu bener, seenggaknya aku masih bisa ngerasain macet-macetan di Bandung sebelum aku kuliah nanti, aku pasti bakalan kangen banget sama macetnya kota ini!” jawab Malik dengan wajah yang mulai berubah dan tidak seceria saat pertama datang.

“Kesannya kaya yang bakalan ninggalin Bandung gitu sih!” kataku sambil tertawa ragu.

“Fira aku punya kabar baik dan kabar buruk, kamu mau denger yang mana dulu?”

“Terserah!” jawabku singkat, perasaanku mulai tidak enak.

“Kabar baiknya aku lolos FK UI dan kamu pasti tau kan apa kabar buruknya?”

Aku hanya terdiam, ternyata benar kabar ini bukan hanya buruk tapi sangat menyebalkan. Itu tandanya dalam waktu singkat Malik akan pergi dari Bandung, lalu bagaimana hubungan kami? Long distance? Apa aku mampu menjalaninya? Suasana mendadak sangat mencekam, otakku mencoba berkali-kali untuk membayangkan hal yang akan terjadi selanjutnya, tapi tiap aku mencoba membayangkanya maka disitu jugalah perasaanku semakin tak menentu.

Malik mulai menatapku iba aku tau apa yang ia pikirkan saat itu.

“Terus, nanti aku sama siapa lik?” tanyaku berat, mataku mulai perih menahan air mata yang akan keluar. Aku mulai menyapu sudut-sudut mata dengan jemari tanganku.

“Fira kamu ngomong apa sih, kamu bakalan tetep sama aku sampai kapanpun kamu mau.”

“Aku ikut seneng denger kabar baiknya, tapi aku juga nggak mau Malik pergi. Aku egois!”

“Denger ya Safira, mungkin buat kedepanya kita nggak bisa ketemu sesering sekarang, aku juga nggak bisa selalu nemenin dan aterin kamu. Tapi Malik janji dimana dan kapanpun Malik nanti cuma ada satu perempuan yang Malik inget yaitu Safira!”

Mungkin sekarang Malik berkata seperti itu karena belum ada yang bisa menggantikan posisi aku, tapi nanti di Jakarta entahlah. Perkataan lelaki itu seperti nasi yang cepat basi, sekarang begini besok begitu.

Selama apa kita bisa bertahan dengan jarak dan waktu?” kataku dalam hati.

Sore itu memang mulai terlihat mendung hingga kami memutuskan untuk pulang membawa sejuta kebingungan dan kabar menyesakkan yang selalu saja berputar dipikiranku.
***

Tidak terasa 5 bulan sudah aku lalui tanpa Malik atau siapapun, ya aku kesepian. Malik selalu mengabariku setiap hari, tapi sekarang perasaanku mulai datar. Apa yang bisa aku harapkan dan pertahankan dari keadaan yang seperti ini. Hubungan ini hanya membuatku semakin tak menentu, terkadang ada rasa ingin menyudahi semua ini tapi jujur ada rasa takut kehilangan yang sangat besar juga saat itu. Aku tau besok aku pasti akan menyesal dengan keputusanku tapi apalah artinya semua ini, 4 tahun bukan waktu yang sebentar bukan? Apalagi untuk menunggu seseorang yang sewaktu-waktu perasaanya bisa saja hilang kepadaku. Hanya membuang waktu saja menurutku dan menambah kesedihan, dengan kami sebatas saling mengabari selama ini maka semakin terlarut lah aku dengan kenangan bersamanya. Setiap aku berada dikota ini, tempat-tempat yang pernah aku datangi denganya dulu selalu berhasil membuatku sedih, kota Bandung ini menyimpan banyak kenangan tentangnya.

Entahlah seperti mendapatkan telepati dan insting yang sama. Saat  aku sedang berjalan menuju rumah tiba-tiba terasa ponselku bergetar dari dalam tas, kumulai mengambil dan langsung memeriksanya. Ternyata sebuat pesan dari pengirim bernama Malik, setelah beberapa hari aku tidak menghubunginya tiba-tiba aku mendapat pesan ini, begitu panjang lebar dan cukup membuatku mengerti.

Sore Capila.. aku tau kamu saat ini pasti baru selesai kuliah, beberapa hari kemarin aku tidak mendapatkan pesan dari kamu sama sekali padahal aku selalu menunggu, tapi itu tidak jadi masalah. Mulai sekarang kamu boleh lakukan apa saja yang kamu mau, kamu nga harus selalu kabari aku, kamu boleh pergi kemanapun kamu mau tanpa harus mengabariku lebih dulu asalkan kamu bisa jaga diri, dan kamu boleh dekat dengan siapapun yang bisa membuat kamu lebih merasa nyaman dan senang. Yang perlu Fira tau disini Malik masih menjaga perasaan yang besar ini untuk kamu, Malik masih sayang Fira. Kamu bisa kirim pesan singkat atau telepon aku kapanpun kamu merasa rindu. Kalau saat ini Fira rindu Malik, Malik juga Rindu Fira. Take care dear, Love you! 

Mulai saat itu aku benar-benar mengerti dengan apa yang dimaksud Malik, secara tidak langsung ia telah melepasku. Mungkin inilah akhir dari cerita cinta aku dengannya, sungguh ironis. Lagi-lagi jaraklah yang membuat seseorang kalah mempertahankan sebuah hubungan. Aku tidak merasa menyesal pernah mengenal Malik, walau harus berakhir seperti ini tapi aku sangat merasa beruntung bisa dipertemukan denganya. Malik hanya perantara kebahagiaan yang Tuhan berikan, aku yakin akan ada Malik lainya yang bisa mengisi kembali kekosongan ini.
***

Setelah beberapa lama aku mengingat kembali kejadian itu, aku mulai tersadar hari sudah pagi dan aku hampir terlambat. Pagi yang sama tapi dengan perasaan yang berbeda, matahari masih tetap setia hadir walau ia tak pernah berjanji. Aku mulai menjalani aktifitasku seperti biasa, pergi ke kampusku Universitas Pendidikan Indonesia dengan menyusuri beberapa rumah dan gedung-gedung fakultas hingga akhirnya aku sampai di kelas. Aku menyapa semua temanku yang lebih dulu ada, wajahku berseri-seri lebih ceria dan sangat bersemangat.

Perkuliahanku telah usai beberapa menit lalu, aku segera pergi meninggalkan kelas menuju gerbang utama di kampusku, Bari telah menungguku disana sejak beberapa saat sebelum aku keluar kelas. Dengan langkah yang sengaja ku percepat, tiba-tiba aku mendengar ada yang memanggilku di seberang sana, spontan aku berhenti dan menghampirinya.

“Fira mau kemana? Kita pergi yu aku punya tempat baru yang wajib kamu tau!” ajak Rama.

“Kemana? Sekarang?”

“Tempat makan daerah Dago, tempatnya asik kamu pasti suka konsep alam terbuka dan view-nya keren banget buat ambil gambar.”

“Yaaa.... Rama maaf engga hari ini ya, aku mau pergi sama Bari sekarang!”

“Bari?” tanya Rama dengan nada rendah.

“Ah! Rama aku hampir lupa cerita kemarin aku jadian sama Bari, nanti aku kabari kamu ya Ram maaf sekarang aku buru-buru. Salam olahraga Ram!” celotehku sambil meninggalkan Rama dan langsung berlari menuju gerbang utama kampus.

Kini aku sudah bersama Bari, dia mulai membawaku pergi ke tempat yang mungkin tidak aku tau tapi ternyata aku salah duga. Tibalah kami di sebuah jalan yang sangat tidak asing lagi bagiku. Bagaimana tidak, jalan bersejarah bagi Bandung dan juga bagiku ini adalah salah satu tempat favoritku bersama Malik dulu. Kami sering menghabiskan waktu di daerah sepanjang jalan Braga ini untuk mengunjungi beberapa tempat makan atau cafe, mengambil beberapa gambar dengan backround gedung-gedung Belanda kuno, atau hanya sekedar berjalan menyusurinya tempat ini untuk melihat lukisan karya para seniman yang banyak terpampang di pinggir jalan. Suasana Braga sore hari ini memaksaku untuk mengingat kembali kenangan-kenanganku dulu bersama Malik. Aku mulai bertanya dalam hati kenapa Bari membawaku ke tempat ini, dia seolah sengaja mengajaku untuk bernostalgia. Jalan Braga adalah tempat yang sangat terkenal di Bandung, selain bernilai sejarah jalan ini cukup legendaris di Bandung. Kini sepanjang jalan ada banyak tempat makan dan hiburan. Hanya saja ada sebagian jalanan yang memakai batu bukan dari aspal, banyak sekali lubang yang akhirnya mengurangi kenyamanan. Mungkin niatnya agar lebih artistik tapi tetap kenyamanan dan keamanan bagi pengendara yang melewati jalan itu seharusnya tetap diperhatikan.

***

Banyak sekali yang berubah akhir-akhir ini semenjak ada Bari. Aku lebih sering menghabiskan waktu bersamanya. Ketika tidak berada bersamanya pun aku tidak luput berkomunikasi denganya melalui ponselku, barang yang benar-benar tidak pernah jauh dariku setiap saat. Kemana pun aku pergi maka ponselku lah satu-satunya barang yang wajib aku bawa untuk apalagi kalau bukan untuk mengabari dan mengetahui kabarnya Bari. Aku sering mencuri-curi kesempatan untuk mengirimi pesan singkat pada Bari ketika ada di dalam kelas ataupun sedang mengobrol bersama teman. Semuanya mengalir begitu saja semakin hari aku semakin menemukan kembali kebahagiaan yang telah lama aku cari. Aku begitu tenang melakoni peranku sekarang sebagai pacar Bari, sampai-sampai aku lupa dengan temanku Rama. Terakhir aku bertemu denganya saat dia mengajaku pergi ke daerah Dago untuk berkuliner. Setelah itu Rama tidak menghubungiku lagi. Mungkin sekarang Rama sedang sangat sibuk dengan kuliahnya sehingga dia tidak punya waktu banyak untuk  bermain dan melepas penat seperti biasanya.

Tentu saja dalam sebuah hubungan tidak selamanya baik-baik saja. Aku dan Bari hampir menginjak bulan kesatu. Ini baru awal perjalananku dengan Bari, masih akan sangat panjang pikirku tapi apa yang terjadi tidak selalu seindah dengan apa yang dibayangkan. Saat itu aku mulai merasakan hal yang berbeda dari perilaku Bari, mungkin itu hanya perasaanku saja.

Hari itu hari Minggu tepat sehari sebelum kami menginjak waktu satu bulan setelah kami habiskan waktu bersama. Seperti biasanya, saat terbangun aku mulai meraba sisi bantalku tempat biasanya ponsel kusimpan sebelum tidur, aku mulai memberikan sebuah pesan singkat berupa ucapan selamat pagi dan perkataan manis lainya yang biasa aku ketik untuknya dengan emote cium dan peluk yang selalu kulampirkan agar pesan itu terasa lebih nyata. Walau terkadang apa yang diketik tidak selalu sama dengan apa yang dirasakan.

Minggu ini sangat mendung, dari mulai pagi hari matahari terlihat malu-malu untuk menampakan dirinya. Jam menunjukan pukul 2 siang dan matahari masih sama, belum memberikan sinar yang sempurna bahkan hujan mulai turun sangat deras. Aku hanya berdiam diri di rumah dan sesekali mengirimi Bari pesan singkat. Kali ini aku merasa ada yang berubah saat ku baca beberapa pesan dari Bari. Tidak seperti biasanya pesan itu begitu datar dan hambar tampa emote-emote yang biasanya ikut mewarnai pesan singkat darinya. Entah pada pesan keberapa yang aku kirim saat itu, kali ini Bari benar benar lama tidak membalasnya untuk beberapa saat.

Hingga pada akhirya setelah aku selesai membereskan kamarku yang sudah lama berantakan aku mulai memeriksa kembali ponselku. Saat  itu aku sudah mendapati satu pesan baru yang mungkin balasan dari Bari dan ternyata dugaanku benar. Namun, kali ini aku mendapati pesan yang lumayan panjang dan mengejutkan. Isi pesan singkat ini membuatku terdiam beberapa detik, ada rasa sesak saatku mulai membacanya serontak dingin ini mulai menyerang seluruh tubuhku dari mulai kaki hingga ubun-ubun.

Fira aku yakin kamu sudah cukup dewasa menyikapi hal seperti ini, kita sama-sama tahu konsekuensi berpacaran itu dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan. Kali ini aku bukan bermaksud untuk pergi dari kehidupan kamu tapi aku pikir mungkin bila berteman kita bisa lebih baik. Aku mau menyelesaikanyan dengan cara baik- baik. Kita memulai hubungan ini dengan baik-baik maka kita harus menyudahinya pun dengan baik.

Habis sudah kata demi kata dari pesan singkat itu kubaca, tenggorakanku mulai kering dan sudut mataku mulai perih untuk menahan air mata yang akan keluar. Sungguh keadaan yang sangat menyedihkan, kugigit bibir bawahku keras-keras untuk menahan segala perasaan yang mungkin hanya bisa diungkapkan dengan airmata. Kakiku yang sejak tadi berdiri terpatung mulai lemas dan akhirnya dengan perlahan mulai jatuh terduduk dimana tempat aku membaca pesan itu.

Ini maksudnya apa? Tanyaku dalam hati. Aku serasa dipermainkan takdir yang selalu memberikan aku kejutan dan selalu berhasil membuat hatiku seperti tersayat. Hujan diluar masih sangat deras, aku masih terlarut dalam keadaan yang seperti tadi. Aku tak mengerti maksud semua ini, kenapa dengan begitu mudah 

Bari mengambil keputusan seperti itu. Sebenarnya siapa aku dimatanya? Bari menghempaskan hatiku seenaknya tanpa mengingat bagaimana dulu dia memintanya, masih sangat jelas terdengar ditelinga saat Bari memintaku untuk menemaninya. Kata baik-baik itu maksudnya apa? Bagi dia mungkin itu baik-baik tapi bagaimana dengan perasaanku yang dengan mudah ia curi lalu ia abaikan begitu saja. Pikiranku bercabang kemana-mana, seolah mencari jawaban sendiri atas apa yang Bari lakukan terhadapku. Mencoba menelusuri dan menginat kembali apa yang sebernarnya terjadi sebelum ia mengirim pesan itu. Apa aku melakukan kesalahan? Tapi apa? Tidak ada sedikitpun niat untuk membalas pesan sialan itu, aku pikir ini sudah cukup jelas, tidak ada lagi yang bisa dipertahankan. Percuma bila aku mencoba membuat Bari menarik omonganya kembali, aku tidak siap menerima penolakan yang pasti akan menambah perasaan ini hancur berserakan. Mungkin aku yang terlalu bodoh tidak bisa membedakan mana yang benar-benar sayang dengan yang hanya obsesi sesaat untuk memiliki saja.
***

“Kamu yakin mau sendiri tinggal dirumah sana?” tanya ibuku dengan wajah cemas.

“Ibu, aku mau membuat laporan mungkin dengan sendirian ditempat sepi inspirasi akan mudah muncul dalam otakku.” Jawabku sambil tertawa

Aku mulai pergi sendirian mendatangi dan menginap beberapa hari di rumah yang sudah lama tidak ditempati itu, rumah dengan arsitektur Belanda di daerah Ciumbuleiut. Terakhir aku mendatangi rumah masa kecilku ini tepat sehari setelah Malik pergi ke Jakarta dan hari ini aku kembali kesini lagi membawa keperihan yang sama bahkan lebih menyakitkan dibandingkan saat itu.

Aku lebih memilih pergi mengasingkan diri dari semuanya ketika aku memiliki masalah. Mencoba menertralisasi otak dan perasaan yang penuh dengan ingatan yang menyesakan. Biasanya untuk beberapa saat aku akan sendiri dirumah ini membenahi perasaanku sendirian menata hidupku selanjutnya, hingga aku siap kembali menjalani hidupku seperti biasa lagi. Dengan mengabaikan semua telepon dan pesan yang masuk di ponselku semakin membantuku untuk memulai hidup baru. Kembali menjalani hariku sendirian tanpa Malik ataupun Bari.

Dua minggu berlalu dan aku mulai berhasil, kini aku akan kembali pulang ke rumah karena keesokan harinya aku harus segera kembali melakukan rutinitasku seperti biasa. Daerah yang beberapa hari sengaja aku tinggalkan untuk suatu alasan. Aku sudah meninggalkan perkuliahan selama itu, mudah-mudahan semuanya akan tetap baik-baik saja, lagi pula aku belum mengambil jatah absenku di semester ini.
***

“Fira ayo naik keretanya mau berangkat!” ajak Rama sambil menarik tanganku.

Aku duduk di dekat jendela bersama Rama disebelahku, melihat suasana dalam ketera itu penuh sesak orang-orang. Mereka pergi dengan kereta ini dan memiliki tujuan masing-masing sedangkan aku entahlah, yang aku tau kami menaiki kereta jurusan Bandung-Padalarang. Aku tidak ingin banyak bertanya saat itu pada Rama.

“Fira kalau mau cerita, aku ada nih disebelah kamu buat denger semuanya!” ujar Rama.

Aku menoleh kearah Rama, “Aku harus cerita tentang apa Rama?”

“Ya nga masalah kalau kamu nga mau cerita sekarang, tapi kalau nanti kamu udah mau cerita bilang aja! Safira kamu nggak bisa bohong sama aku, kamu sekarang lagi nggak baik-baik aja, denger ya orang nggak akan bisa bantu kalau kamu nggak cerita.”

Disitu sejenak aku tersadar saat seperti ini masih ada seorang yang setia menemani mencari dan memperdulikanku, Rama selalu ada disaat aku merasa sendiri. Aku jadi teringat beberapa waktu lalu saat Malik mulai pergi ke Jakarta hanya ada Rama yang setia menemaniku seakan- akan membantuku untuk melupakan kesedihanku dan sekarang Rama pula yang ada untuk menemani saat aku merasa terjatuh untuk kedua kalinya. Perasaanku mulai berubah kali ini aku benar-benar hanya memikirkan soal Rama, mengapa aku bisa sampai lupa atas semua kebaikan yang telah dilakukan Rama selama ini bahkan nyaris tidak menyadari keberadaanya.

“Fira aku kenal kamu bukan sehari dua hari, 4 tahun sejak SMA makanya aku tau betul kamu itu seperti apa. Sekarang terserah kamu mau ngaku apa engga yang pasti terlihat jelas dari raut wajah kamu kalau sekarang kamu memendam banyak pikiran. Kamu tau tujuan aku ajak kamu pergi sejauh ini untuk apa?

Aku hanya menggelengkan kepalaku sambil melihat ke arah Rama yang saat itu terlihat sangat dewasa berbicara kepadaku.

“Pergi sejauh ini dengan membawa banyak masalah yang selama ini telah menjadi beban berat buat kamu dan semua ingatan yang harus segera dibuang. Aku mau kita pergi membawa semua itu dan meninggalkanya disana jangan kamu bawa pulang lagi, bayangkan saat di perjalanan ini masalah pikiran dan ingatan pahit itu mulai berjatuhan dijalan hingga tak tersisa. Sehingga saat pulang nanti kamu akan seperti hidup kembali dari kepenatan yang selama ini mempermainkan kamu.”

 “Memang pada kenyataanya tidak semudah itu melupakan dan memulai semuanya lagi dari awal dengan semangat baru, tapi kamu harus tau Fira ingatan itu akan selalu ada selama kamu mengijinkannya begitupun kesedihan, sedih pun akan menusuk perasaan kamu sedalam yang kamu ijinkan.”

“Rama aku paham, terima kasih! Aku jauh lebih baik sekarang, dan akan selalu aku coba untuk tetap selalu ceria menjalani semuanya setelah ini asal kamu selalu temani aku.”

 “Setelah kita pulang nggak ada lagi Fira yang murung yang sedih yang lemah, sekarang hanya ada Fira yang ceria yang kuat yang selalu bersemangat. Inget Safira hidup masih panjang jangan kamu habiskan dengan hal melow seperti itu. Kamu mau apa setelah kamu tua nanti, kamu nyesel dan ga berhenti menertawakan diri kamu sendiri saat ini. Menangis karna cinta! HAHAHA” celoteh Rama sambil tertawa.

Tawaku mulai terpecah kali ini, aku mulai sadar dengan semuanya. Selama ini aku tidak pernah membuka mataku dan memandang kehadiran Rama dengan biasa saja. Padahal satu satunya yang selalu ada hanya Rama dan beruntung aku menyadari hal itu saat Rama masih ada bersamaku, disampingku, dan membuatku tertawa. Aku tak bisa membayangkan bila Rama sudah tidak ada untuku lagi, sungguh celaka dan merugilah aku menyia-nyiakan kehadiran seorang Rama di hidupku hanya dengan kehadiran mereka yang hanya ingin sekedar singgah, Bari contohnya.

Terkadang kita selalu menutup mata untuk seseorang yang selalu ada untuk kita, kehadiranya seolah tidak pernah disadari walau saat dia sedang mengobati luka yang ada sekalipun. Lihatlah sekeliling sebelum kita merasa sendiri, seringkali kita tidak peka terhadap kehadiran seseorang yang peduli terhadap kita. Karena pada kenyataanya kita tidak pernah sendiri dihidup ini, bahkan Tuhan pun selalu ada disamping kita untuk menemani kemanapun kita pergi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar