NOSTALGIA SORE DI BRAGA
Senin
pagi di Univesitas Pendidikan Indonesia
“Fir... Fira kuliah hari ini udah selesai kali!”
Suara salah satu temanku itu berhasil memecahkan
lamunanku, sejak dosen berada di dalam kelas, aku hanya diam menatap kedepan
seolah memerhatikan dengan tangan memegang pulpen dan buku catatan yang
terbuka. Aku mulai merapikan alat tulisku dengan cepat dan asal. Tanpa pikir
panjang aku mulai melangkahkan kaki ini keluar kelas dengan ekspresi wajah
datar.
“Fira kamu
kenapa? Sakit ?” tanya Gina sambil menarik lengan tangan kananku.
“Emangnya aku
kenapa? Nggak apa-apa ko, tumben
perhatian banget,” jawabku santai dengan disertai sedikit senyum memaksa
agar lebih meyakinkan.
“Aku lihat hari ini kamu beda Fir, dari tadi pagi
kamu datang langsung duduk di kursi paling depan deket dosen terus bengong dari
awal sampai akhir, nggak ngomong, nggak nyapa, dan nggak buat rusuh. Itu bukan
kamu banget Safira! “ jawab Gina panjang lebar dengan wajah penuh tanya.
Aku saat itu hanya tersenyum simpul, lalu segera
pergi meninggalkan kelas dengan pandangan kosong melihat lurus kedepan.
Langkahku mulai menyusuri beberapa fakultas menuju rumah
yang kebetulan sangat dekat dengan kampusku, hanya dengan berjalan kaki dalam
waktu 15 menit aku bisa segera sampai tanpa macet. Tiba-tiba terdengar suara
sepeda motor dan seseorang yang memanggilku dari arah belakang.
“Fira... aku cariin kemana-mana taunya disini. Kata Gina
2 minggu kamu nggak masuk kuliah. Kemana?” tanya Rama dengan kecemasan yang
terlihat jelas diwajahnya.
“Kamu nyariin aku
Ram? Aku pergi kemarin.”
“Liburan?
Gayanya udah macam turis aja sih!”
“Bukan Ram, aku
penat aja sama semuanya mulai
dari suasana rumah, kelas, kampus. Aku coba cari suasana baru, kemarin aku
tinggal dirumah sewaktu aku masih SD dulu,” jawabku sambil melihat sekeliling.
“Sekarang pasti
masih penat kan Fir? Ayo naik ikut aku!” bujuk Rama seolah tidak membutuhkan
jawabanku terlebih dulu.
***
Tuuuttttt.... Tuuuttttt.... Tuuuttttt....
“Ngapain kita ke
stasiun kereta Ram?”
“Naik ketera lah Fir, kamu jangan banyak protes dulu ya.
Ikut aja, aku yakin kamu nggak bakalan nyesel deh lagian kamu belum pernah naik
kereta kan. Aku dulu pernah janji mau ajak kamu
mengitari kota Bandung, nah sekarang kita mulai dari sini Fir.”
Begitulah Rama
seorang teman yang selalu mencoba membuat aku tidak merasa sendirian, temanku dari SMA yang satu ini walau kita
berbeda kampus, tapi ia sering mengajakku pergi dan mengenalkan beberapa tempat
yang belum pernah aku kunjungi di kota kelahiranku ini. Sejak lahir aku tinggal
di kota Bandung, ternyata banyak sekali tempat yang belum terjajaki olehku,
tapi semenjak kuliah Rama rajin sekali mengajaku pergi walau hanya untuk sekedar
kuliner ataupun hunting foto di
tempat-tempat yang menurutnya sangat menarik di kota Bandung.
Terakhir sebelum aku ke stasiun Bandung ini, Rama mengajaku ke lapang udara Bandara
Husein Sastranegara, tempat yang biasa digunakan untuk mengambil foto dengan
konsep backround pesawat terbang yang sudah lama tidak
digunakan dan beberapa gedung tua yang kebetulan lokasinya berdekatan. Tempat
terakhir yang aku dan Rama datangi
sekitar 1 bulan lalu sebelum akhirnya
kita bertemu lagi hari ini. Waktu itu hari Jum’at aku ingat betul tepat setelah
aku pulang bersama Rama dan pada malam harinya...
***
Sore ini cukup
cerah dan aku baru saja sampai di kamar, dengan wajah yang lelah aku langsung menjatuhkan diri di kasur sambil
melihat jam di tangan kiriku, rupanya sudah jam 5 sore. Sepulang pergi bersama
Rama dari Bandara Husein Sastranegara tadi aku baru ingat, malam ini Bari
mengajaku untuk menemaninya pergi ke sebuah tempat makan di daerah Setiabudhi
untuk sekedar mencoba makanan yang sangat populer disana, yaitu Surabi nama
tempatnya Rumah Surabi Imoet. Dari anak hingga orang dewasa terutama mahasiswa sering sekali mengunjungi tempat itu untuk
sekedar bertemu dengan teman, mengobrol, dan kuliner.
Tampak ada
beberapa meja yang mungkin sudah lama ditempati oleh sekumpulan mahasiswa,
kulihat sekeliling dan pandanganku mulai berhenti di salah satu meja dan disitu ada seorang lelaki yang terlihat
sedang menunggu seseorang, aku kenal betul pemilik rambut yang tidak
terlalu gondrong itu. Hari itu ia menggunakan kemeja kotak-kotak biru muda dan dongker sambil memainkan
ponsel yang ia genggam ditangan. Ya itu Bari, aku segera datang menghampirinya
sambil sesekali membenarkan baju yang aku kenakan saat itu. Kita mulai
mengobrol dan memesan beberapa makanan, sesekali kita tertawa lepas entah itu karena membahas hal yang konyol
atau hanya saling mengejek satu sama lain.
Kebetulan banyak sekali bahan yang bisa memecahkan tawa kami saat itu,
contohnya seperti kelakuan Bari yang konyol tetapi tetap nature dan tidak dibuat-buat, mungkin
karena itulah aku lebih tertarik padanya dibandingkan lelaki lain. Bari ialah
sosok lelaki humoris yang kebetulan dipertemukan dengan aku yang menyukai
lelaki berkarakter seperti itu.
Setelah beberapa
lama kita mengobrol dan tertawa,
saat ini Bari seperti benar benar ingin mengatakan suatu hal yang penting dan
serius. Mungkin sebenarnya inilah inti dari tujuan dia mengajaku bertemu malam
ini.
“Fira...engga
tau kenapa setiap lagi bareng kamu, aku ngerasa seneng loh, aku harap kamu juga
ngerasain hal yang sama. Selama ini kamu udah jadi temen yang baik buat aku,
selalu memberi semangat dan perhatian.
Aku mau kamu jadi lebih dari sekedar
temen, aku...” ucap Bari terbata-bata sambil mencoba untuk tetap terlihat
santai.
“Maksudnya?
Pacaran?” tanyaku sambil mengerutkan alis.
“Setiap pesan
singkat yang kamu kirim buat aku itu menjadi sebuah semangat dan jujur aku
seneng banget saat kamu sesekali
kasih perhatian buat aku. Semua itu udah membuat aku semakin merasa
nyaman, Fir aku mau kamu terus lakuin hal itu sama aku. Semoga kamu ngerti
maksudnya!”
“Iya..iya Bar,
aku ngerti maksud kamu.. Pacaran?”
“Ya pacaran atau apapun itu yang pasti aku mau
jadi sebab kamu bahagia setiap harinya,
aku mau jadi orang pertama yang selalu ngucapin selamat pagi saat kamu
bangun dan selamat malam sebelum kamu tidur.
"Fira, aku pasti seneng banget
kalau kamu nga keberatan dan mau ngelakuin hal yang serupa sama aku. Aku tau
kamu pasti bertanya-tanya atas apa yang aku minta sekarang jujur sebenernya udah lama aku pengen
bilang, Bari sayang kamu Safira!”
Haaaaaa!!!
Jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya dan mulutku spontan menganga
beberapa detik, ya saat itu aku sangat berlebihan menanggapinya.
Setelah kurang
lebih satu tahun lalu semenjak Malik pergi ke Jakarta untuk kuliah, ya dia
adalah seseorang yang pernah menjadi
pensil warna di kertas kehidupanku, tapi itu dulu sebelum Malik pergi kuliah
meninggalkan kota Bandung dan berjuta kenangan bersamaku. Demi mimpi Malik yang
telah lama ia perjuangkan yaitu menjadi mahasiswa kedokteran di salah satu
universitas negeri di Jakarta, kami memilih untuk mengakhiri semua keindahan yang
pernah kami alami berdua dan aku hanya bisa mencoba untuk menjadi lebih mandiri
dan kembali menjalani hari-hariku tanpa Malik. Kita tidak pernah bertengkar,
sama sekali tidak pernah yang ada hanya kemesraan dan kenangan manis saat
bersama, hubungan kami begitu indah nyaris sempurna tanpa cacat hingga pada
akhirnya takdir mengatakan lain. Hidupku harus tetap berjalan dengan atau tanpa
Malik. Selama ini aku tidak pernah
berniat untuk cepat-cepat mencari pengganti Malik, aku lebih memilih untuk diam
dan menunggu seseorang itu datang dengan sendirinya, terkadang aku hanya
ingin sendiri menetralkan perasaanku yang cukup sulit untuk melupakan sosok
Malik. Tapi akhirnya malam ini...
Aku hanya
terpatung dan masih memikirkan perkataan yang baru saja Bari utarakan, mataku
melihat wajah Bari yang juga melihatku, pandangan kita saling bertemu beberapa
saat, hingga pada akhirnya Bari memanggil namaku dengan sangat pelan hingga
membuatku mulai berhenti memikirkan dan membayangkan tentang kenanganku bersama
Malik sekaligus bagaimana kehidupanku seterusnya jika bersama Bari. Saat itu
aku benar benar tidak tau apa yang harus aku lakukan, yang jelas ada perasaan
senang yang begitu besar dan sangat nyata, rasanya seperti melihat sebuah sinar
yang memancar dari wajah Bari, seolah meyakinkan aku akan jawaban dari semua
doaku selama ini, Siapapun dia
datangkanlah jika memang dia bisa membuat hidupku kembali berwarna, membantuku
melupakan semua kenangan indah yang kerap menyiksa ingatanku selama ini. Mungkin
orang itu Bari, buktinya hati aku merasa senang dan sangat yakin saat Bari
bicara seperti itu.
“Aku engga janji bisa memjalani sebuah
hubungan yang sempurna dan selalu membuat kamu senang Bar, tapi kita coba
ya...”
Hanya
kata itu yang berhasil keluar dari mulutku mengalahkan segala kekalutan
yang seakan membuatku kaku untuk berkata-kata. Entah apa yang saat itu aku
pikirkan, yang jelas hanya ada bayangan kebahagiaan di hari-hari selanjutnya
bersama Bari.
***
“Terima kasih
Bari...Hati-hati dijalan!”
“Iya kembali
kasih Fira, kamu berhasil membuat malam ini sangat indah dan bersejarah.”
“Semoga dengan
adanya aku bisa membuat hidup kamu lebih baik begitupun sebaliknya. Jangan lupa
kabari aku kalau sudah sampai rumah ya!”
“Iya..yang!”
jawab Bari lembut sambil tersenyum.
Yang? Maksudnya
itu sayang kan? Ya tuhan rasanya sudah berapa abad aku tidak mendengar
panggilan itu di telingaku dan hari
ini aku mulai mendengarnya lagi. Perlakuan-perlakuan istimewa yang sudah lama
tidak kudapat dari seorang lelaki, akhirnya malam ini kutemukan lagi.
Seusai menunggu
dan melihat kepergian Bari, aku langsung masuk ke dalam rumah dan segera
menyiapkan diriku untuk istirahat. Aku mulai
tenggelam dalam bayang-bayang sosok Bari malam itu, ya malam pertama dimana aku
akan mendapatkan kembali ucapan selamat tidur dan mimpi indah dari seorang yang
istimewa.
Tiba tiba
ponselku bergetar, dengan cepat aku ambil dan mulai memeriksanya tentu saja
sebuah pesan dari Bari. Malam itu kami mulai saling mengirim dan membalas pesan
singkat sesaat menjelang sebelum tidur. Hari yang indah bukan, semoga ini
adalah sebuah awal kebahagiaan yang nyata untuk aku dan Bari.
Pagi hari yang
cerah matahari mulai bersinar, tapi hari ini tentu saja ada yang berbeda. Saat terbangun
aku segera kembali memeriksa ponselku untuk sekedar mengirim pesan singkat pada
Bari tapi kali ini rupanya aku telat, Bari lebih dulu mengirim ucapan-ucapan
manis untuk memulai hari di pagi
yang cerah ini. Hari ini aku merasa lebih bersemangat dari biasanya mungkin
karena sekarang sudah ada Bari. Aku semakin yakin kalau Bari lah orang yang
selama ini aku harapkan di setiap doa yang aku panjatkan. Siapa yang menyangka
akan seperti ini, semuanya terasa begitu mulus dari awal aku mengenalnya dan
bertemu hingga saat ini berpacaran.
Aku mulai
melupakan sosok Malik yang selama ini selalu menghantuiku, selalu
bertanya-tanya tentang apa yang Malik lakukan? Apa ia baik-baik saja? Sudah adakah
yang berhasil menggantikan posisiku di dalam hatinya? Apa dia merasakan rindu ketika aku
merindukannya? Ah entahlah, kami tidak saling berkomunikasi sejak lima bulan
pasca kepergianya ke Jakarta, karena aku pikir untuk apa kami saling mengabari
dan bercerita, itu hanya bisa membuatku semakin tersiksa oleh bayang bayang
semu tentang Malik. Masih teringat dan terdengar jelas di telingaku saat
pertama Malik membicarakan soal kepergianya untuk meneruskan kuliah di Jakarta.
Sedikit flashback, hari
itu pengumuman SNMPTN jalur tertulis diumumkan. Kami berdua memutuskan untuk
bertemu dan saling memberikan kabar baik atau buruk yang kami dapatkan setelah
membuka pengumuman itu. Sore itu kami bertemu di sebuah mall yang berada di Bandung daerah Cihampelas, suasana mall saat itu sangat ramai mengingat
hari itupun sedang weekend. Pastilah
tempat ini penuh dikunjungi orang bahkan tidak jarang pengunjung dari luar
Bandung pun ikut datang kemari untuk sekedar berjalan-jalan.
Malik menyuruhku
menunggunya di tempat yang biasa kita datangi ya sebuah cafe yang berada di lantai atas
mall ini, sehingga bila berada di tempat ini kita bisa melihat keadaan
orang yang berlalu lalang di luar mall, sering
sekali kita memperhatikan beberapa orang yang berada di bawah dan mencoba untuk
menebak apa yang sedang mereka bicarakan tergantung dengan siapa mereka sedang
berjalan. Itulah kebiasaan yang
sering kami lakukan.
“Fira..maaf... jalanan Bandung
macet parah Cihampelas, Sukajadi, Pasteur” ujar Malik sambil membenarkan rambutnya
kearah belakang.
“Gak usah
dibahas, udah basi dari dulu seperti inilah Bandung, jangan ngeluh! Gini-gini
juga Bandung nyimpen banyak kenangan tentang kita.”
“Iya Fira kamu
bener, seenggaknya aku masih bisa ngerasain macet-macetan di Bandung sebelum
aku kuliah nanti, aku pasti bakalan kangen banget sama macetnya kota ini!”
jawab Malik dengan wajah yang mulai berubah dan tidak seceria saat pertama
datang.
“Kesannya kaya
yang bakalan ninggalin Bandung gitu sih!” kataku sambil tertawa ragu.
“Fira aku punya kabar
baik dan kabar buruk, kamu mau denger yang mana dulu?”
“Terserah!”
jawabku singkat, perasaanku mulai tidak enak.
“Kabar baiknya
aku lolos FK UI dan kamu pasti tau kan apa kabar buruknya?”
Aku hanya terdiam, ternyata benar kabar
ini bukan hanya buruk tapi sangat menyebalkan. Itu tandanya dalam waktu singkat
Malik akan pergi dari Bandung, lalu bagaimana hubungan kami? Long distance? Apa aku mampu
menjalaninya? Suasana mendadak sangat mencekam, otakku mencoba berkali-kali
untuk membayangkan hal yang akan terjadi selanjutnya, tapi tiap aku mencoba
membayangkanya maka disitu jugalah perasaanku semakin tak menentu.
Malik mulai
menatapku iba aku tau apa yang ia pikirkan saat itu.
“Terus, nanti
aku sama siapa lik?” tanyaku berat, mataku mulai perih menahan air mata yang
akan keluar. Aku mulai menyapu sudut-sudut mata dengan jemari tanganku.
“Fira kamu
ngomong apa sih, kamu bakalan tetep sama aku sampai kapanpun kamu mau.”
“Aku ikut seneng
denger kabar baiknya, tapi aku juga nggak mau Malik pergi. Aku egois!”
“Denger ya
Safira, mungkin buat kedepanya kita nggak bisa ketemu sesering sekarang, aku juga
nggak bisa selalu nemenin dan aterin kamu. Tapi Malik janji dimana dan kapanpun
Malik nanti cuma ada satu perempuan yang Malik inget yaitu Safira!”
Mungkin sekarang
Malik berkata seperti itu karena belum ada yang bisa menggantikan posisi aku,
tapi nanti di Jakarta entahlah. Perkataan lelaki itu seperti nasi yang cepat
basi, sekarang begini besok begitu.
“Selama apa kita bisa bertahan dengan jarak
dan waktu?” kataku dalam hati.
Sore itu memang
mulai terlihat mendung hingga kami memutuskan untuk pulang membawa sejuta
kebingungan dan kabar menyesakkan yang selalu saja berputar dipikiranku.
***
Tidak terasa 5
bulan sudah aku lalui tanpa Malik atau siapapun, ya aku kesepian. Malik selalu
mengabariku setiap hari, tapi sekarang perasaanku mulai datar. Apa yang bisa
aku harapkan dan pertahankan dari keadaan yang seperti ini. Hubungan ini hanya
membuatku semakin tak menentu, terkadang ada rasa ingin menyudahi semua ini
tapi jujur ada rasa takut kehilangan yang sangat besar juga saat itu. Aku tau
besok aku pasti akan menyesal
dengan keputusanku tapi apalah artinya semua ini, 4 tahun bukan waktu yang
sebentar bukan? Apalagi untuk menunggu seseorang yang sewaktu-waktu perasaanya
bisa saja hilang kepadaku. Hanya membuang waktu saja menurutku dan menambah
kesedihan, dengan kami sebatas saling mengabari selama ini maka semakin
terlarut lah aku dengan kenangan bersamanya. Setiap aku berada dikota ini,
tempat-tempat yang pernah aku datangi denganya dulu selalu berhasil
membuatku sedih, kota Bandung ini menyimpan banyak kenangan tentangnya.
Entahlah seperti
mendapatkan telepati dan insting yang sama. Saat aku sedang berjalan menuju rumah tiba-tiba
terasa ponselku bergetar dari dalam tas, kumulai mengambil dan langsung
memeriksanya. Ternyata sebuat pesan dari pengirim bernama Malik, setelah
beberapa hari aku tidak menghubunginya tiba-tiba aku mendapat pesan ini, begitu
panjang lebar dan cukup membuatku mengerti.
Sore Capila.. aku tau kamu saat ini pasti baru
selesai kuliah, beberapa hari kemarin aku tidak mendapatkan pesan dari kamu
sama sekali padahal aku selalu menunggu, tapi itu tidak jadi masalah. Mulai
sekarang kamu boleh lakukan apa saja yang kamu mau, kamu nga harus selalu
kabari aku, kamu boleh pergi kemanapun kamu mau tanpa harus mengabariku lebih
dulu asalkan kamu bisa jaga diri, dan kamu boleh dekat dengan siapapun yang
bisa membuat kamu lebih merasa nyaman dan senang. Yang perlu Fira tau disini
Malik masih menjaga perasaan yang besar ini untuk kamu, Malik masih sayang
Fira. Kamu bisa kirim pesan singkat atau telepon aku kapanpun kamu merasa
rindu. Kalau saat ini Fira rindu Malik, Malik juga Rindu Fira. Take care dear,
Love you!
Mulai saat itu
aku benar-benar mengerti dengan apa yang dimaksud Malik, secara tidak langsung
ia telah melepasku. Mungkin inilah akhir dari cerita cinta aku dengannya,
sungguh ironis. Lagi-lagi jaraklah yang membuat seseorang kalah mempertahankan
sebuah hubungan. Aku tidak merasa menyesal pernah mengenal Malik, walau harus
berakhir seperti ini tapi aku sangat merasa beruntung bisa dipertemukan
denganya. Malik hanya perantara kebahagiaan yang Tuhan berikan, aku yakin akan
ada Malik lainya yang bisa mengisi kembali kekosongan ini.
***
Setelah beberapa
lama aku mengingat kembali kejadian itu, aku mulai tersadar hari sudah pagi dan
aku hampir terlambat. Pagi yang sama tapi dengan perasaan yang berbeda,
matahari masih tetap setia hadir walau ia tak pernah berjanji. Aku mulai
menjalani aktifitasku seperti biasa, pergi ke kampusku Universitas Pendidikan
Indonesia dengan menyusuri beberapa rumah dan gedung-gedung fakultas hingga
akhirnya aku sampai di kelas. Aku menyapa semua temanku yang lebih dulu ada,
wajahku berseri-seri lebih ceria dan sangat bersemangat.
Perkuliahanku
telah usai beberapa menit lalu, aku segera pergi meninggalkan kelas menuju
gerbang utama di kampusku, Bari telah menungguku disana sejak beberapa saat
sebelum aku keluar kelas. Dengan langkah yang sengaja ku percepat, tiba-tiba
aku mendengar ada yang memanggilku di seberang sana, spontan aku berhenti dan
menghampirinya.
“Fira mau
kemana? Kita pergi yu aku punya tempat baru yang wajib kamu tau!” ajak Rama.
“Kemana?
Sekarang?”
“Tempat makan daerah
Dago, tempatnya asik kamu pasti suka konsep alam terbuka dan view-nya keren banget buat ambil
gambar.”
“Yaaa.... Rama
maaf engga hari ini ya, aku mau pergi sama Bari sekarang!”
“Bari?” tanya
Rama dengan nada rendah.
“Ah! Rama aku
hampir lupa cerita kemarin aku jadian sama Bari, nanti aku kabari kamu ya Ram maaf sekarang aku buru-buru. Salam
olahraga Ram!” celotehku sambil meninggalkan Rama dan langsung berlari
menuju gerbang utama kampus.
Kini aku sudah
bersama Bari, dia mulai membawaku pergi ke tempat yang mungkin tidak aku tau tapi ternyata aku salah duga.
Tibalah kami di sebuah jalan yang sangat tidak asing lagi bagiku. Bagaimana
tidak, jalan bersejarah bagi Bandung dan juga bagiku ini adalah salah satu
tempat favoritku bersama Malik dulu. Kami sering menghabiskan waktu di daerah
sepanjang jalan Braga ini untuk mengunjungi beberapa tempat makan atau cafe, mengambil beberapa gambar dengan backround gedung-gedung Belanda kuno,
atau hanya sekedar berjalan menyusurinya tempat ini untuk melihat lukisan karya
para seniman yang banyak terpampang di pinggir jalan. Suasana Braga sore hari
ini memaksaku untuk mengingat kembali kenangan-kenanganku dulu bersama Malik. Aku
mulai bertanya dalam hati kenapa Bari membawaku ke tempat ini, dia
seolah sengaja mengajaku untuk bernostalgia. Jalan Braga adalah tempat yang
sangat terkenal di Bandung, selain bernilai sejarah jalan ini cukup legendaris
di Bandung. Kini sepanjang jalan ada banyak tempat makan dan hiburan. Hanya
saja ada sebagian jalanan yang memakai batu bukan dari aspal, banyak sekali
lubang yang akhirnya mengurangi kenyamanan. Mungkin niatnya agar lebih artistik
tapi tetap kenyamanan dan keamanan bagi pengendara yang melewati jalan itu
seharusnya tetap diperhatikan.
***
Banyak sekali
yang berubah akhir-akhir ini semenjak ada Bari. Aku lebih sering menghabiskan
waktu bersamanya. Ketika tidak berada bersamanya pun aku tidak luput
berkomunikasi denganya melalui ponselku, barang yang benar-benar tidak pernah
jauh dariku setiap saat. Kemana pun aku pergi maka ponselku lah satu-satunya
barang yang wajib aku bawa untuk apalagi kalau bukan untuk mengabari dan mengetahui kabarnya Bari. Aku sering
mencuri-curi kesempatan untuk mengirimi pesan singkat pada Bari ketika ada
di dalam kelas ataupun sedang mengobrol bersama teman. Semuanya mengalir begitu
saja semakin hari aku semakin
menemukan kembali kebahagiaan yang telah lama aku cari. Aku begitu tenang
melakoni peranku sekarang sebagai pacar Bari, sampai-sampai aku lupa dengan
temanku Rama. Terakhir aku bertemu denganya saat dia mengajaku pergi ke
daerah Dago untuk berkuliner. Setelah itu Rama tidak menghubungiku lagi.
Mungkin sekarang Rama sedang sangat sibuk dengan kuliahnya sehingga dia tidak
punya waktu banyak untuk bermain dan melepas
penat seperti biasanya.
Tentu saja dalam
sebuah hubungan tidak selamanya baik-baik saja. Aku dan Bari hampir menginjak
bulan kesatu. Ini baru awal perjalananku dengan Bari, masih akan sangat panjang
pikirku tapi apa yang terjadi tidak selalu seindah dengan apa yang dibayangkan.
Saat itu aku mulai merasakan hal yang berbeda dari perilaku Bari, mungkin itu
hanya perasaanku saja.
Hari itu hari
Minggu tepat sehari sebelum kami menginjak waktu satu bulan setelah kami
habiskan waktu bersama. Seperti biasanya, saat terbangun aku mulai meraba sisi
bantalku tempat biasanya ponsel kusimpan sebelum tidur, aku mulai memberikan sebuah pesan singkat berupa
ucapan selamat pagi dan perkataan manis lainya yang biasa aku ketik untuknya
dengan emote cium dan peluk yang selalu kulampirkan agar pesan itu
terasa lebih nyata. Walau terkadang apa yang diketik tidak selalu sama dengan
apa yang dirasakan.
Minggu ini
sangat mendung, dari mulai pagi hari matahari terlihat malu-malu untuk menampakan dirinya. Jam menunjukan
pukul 2 siang dan matahari masih sama, belum memberikan sinar yang sempurna
bahkan hujan mulai turun sangat deras. Aku hanya berdiam diri di rumah dan
sesekali mengirimi Bari pesan singkat. Kali ini aku merasa ada yang berubah
saat ku baca beberapa pesan dari Bari. Tidak seperti biasanya pesan itu begitu
datar dan hambar tampa emote-emote yang biasanya ikut mewarnai pesan
singkat darinya. Entah pada pesan keberapa yang aku kirim saat itu, kali ini
Bari benar benar lama tidak membalasnya untuk beberapa saat.
Hingga pada akhirya setelah aku selesai membereskan
kamarku yang sudah lama berantakan aku mulai memeriksa kembali ponselku.
Saat itu aku sudah mendapati satu pesan
baru yang mungkin balasan dari Bari dan ternyata dugaanku benar. Namun, kali ini
aku mendapati pesan yang lumayan panjang dan mengejutkan. Isi pesan singkat ini
membuatku terdiam beberapa detik, ada rasa sesak saatku mulai membacanya
serontak dingin ini mulai menyerang seluruh tubuhku dari mulai kaki hingga
ubun-ubun.
Fira aku yakin kamu sudah cukup dewasa menyikapi hal
seperti ini, kita sama-sama tahu konsekuensi berpacaran itu dimana ada
pertemuan pasti ada perpisahan. Kali ini aku bukan bermaksud untuk pergi dari
kehidupan kamu tapi aku pikir mungkin bila berteman
kita bisa lebih baik. Aku mau menyelesaikanyan dengan cara baik- baik. Kita
memulai hubungan ini dengan baik-baik maka kita harus menyudahinya pun dengan
baik.
Habis sudah kata
demi kata dari pesan singkat itu kubaca, tenggorakanku mulai kering dan sudut
mataku mulai perih untuk menahan air mata yang akan keluar. Sungguh keadaan
yang sangat menyedihkan, kugigit bibir bawahku keras-keras untuk menahan segala
perasaan yang mungkin hanya bisa diungkapkan dengan airmata. Kakiku yang sejak
tadi berdiri terpatung mulai lemas dan akhirnya dengan perlahan mulai jatuh
terduduk dimana tempat aku membaca pesan itu.
Ini maksudnya
apa? Tanyaku dalam hati. Aku serasa dipermainkan takdir yang selalu memberikan
aku kejutan dan selalu berhasil membuat hatiku seperti tersayat. Hujan diluar
masih sangat deras, aku masih terlarut dalam keadaan yang seperti tadi. Aku tak
mengerti maksud semua ini, kenapa dengan begitu mudah
Bari mengambil keputusan
seperti itu. Sebenarnya siapa aku dimatanya? Bari menghempaskan hatiku
seenaknya tanpa mengingat bagaimana dulu dia memintanya, masih sangat jelas
terdengar ditelinga saat Bari memintaku untuk menemaninya. Kata baik-baik itu
maksudnya apa? Bagi dia mungkin itu baik-baik tapi bagaimana dengan perasaanku
yang dengan mudah ia curi lalu ia abaikan begitu saja. Pikiranku bercabang
kemana-mana, seolah mencari jawaban sendiri atas apa yang Bari lakukan
terhadapku. Mencoba menelusuri dan menginat kembali apa yang sebernarnya
terjadi sebelum ia mengirim pesan itu. Apa aku melakukan kesalahan? Tapi apa?
Tidak ada sedikitpun niat untuk membalas pesan sialan itu, aku pikir ini sudah
cukup jelas, tidak ada lagi yang bisa dipertahankan. Percuma bila aku mencoba membuat
Bari menarik omonganya kembali, aku tidak siap menerima penolakan yang pasti
akan menambah perasaan ini hancur berserakan. Mungkin aku yang terlalu bodoh
tidak bisa membedakan mana yang benar-benar sayang dengan yang hanya obsesi
sesaat untuk memiliki saja.
***
“Kamu yakin mau
sendiri tinggal dirumah sana?” tanya ibuku dengan wajah cemas.
“Ibu, aku mau
membuat laporan mungkin dengan sendirian ditempat sepi inspirasi akan mudah
muncul dalam otakku.” Jawabku sambil tertawa
Aku mulai pergi
sendirian mendatangi dan menginap beberapa hari di rumah yang sudah lama tidak
ditempati itu, rumah dengan arsitektur Belanda di daerah Ciumbuleiut. Terakhir
aku mendatangi rumah masa kecilku ini tepat sehari setelah Malik pergi ke
Jakarta dan hari ini aku kembali kesini lagi membawa keperihan yang sama bahkan
lebih menyakitkan dibandingkan saat itu.
Aku lebih
memilih pergi mengasingkan diri dari semuanya ketika aku memiliki masalah. Mencoba
menertralisasi otak dan perasaan yang penuh dengan ingatan yang menyesakan.
Biasanya untuk beberapa saat aku akan sendiri dirumah ini membenahi perasaanku
sendirian menata hidupku selanjutnya, hingga aku siap kembali menjalani hidupku
seperti biasa lagi. Dengan mengabaikan semua telepon dan pesan yang masuk di
ponselku semakin membantuku untuk memulai hidup baru. Kembali menjalani hariku
sendirian tanpa Malik ataupun Bari.
Dua minggu berlalu dan aku mulai berhasil, kini aku akan
kembali pulang ke rumah karena keesokan harinya aku harus segera kembali
melakukan rutinitasku seperti biasa. Daerah yang beberapa hari sengaja aku
tinggalkan untuk suatu alasan. Aku sudah meninggalkan perkuliahan selama itu,
mudah-mudahan semuanya akan tetap baik-baik saja, lagi pula aku belum mengambil
jatah absenku di semester ini.
***
“Fira ayo naik
keretanya mau berangkat!” ajak Rama sambil menarik tanganku.
Aku duduk di dekat jendela bersama Rama disebelahku,
melihat suasana dalam ketera itu penuh sesak orang-orang. Mereka pergi dengan
kereta ini dan memiliki tujuan masing-masing sedangkan aku entahlah, yang aku
tau kami menaiki kereta jurusan Bandung-Padalarang. Aku tidak ingin banyak
bertanya saat itu pada Rama.
“Fira kalau mau
cerita, aku ada nih disebelah kamu buat denger semuanya!” ujar Rama.
Aku menoleh
kearah Rama, “Aku harus cerita tentang apa Rama?”
“Ya nga masalah
kalau kamu nga mau cerita sekarang, tapi kalau nanti kamu udah mau cerita
bilang aja! Safira kamu nggak bisa bohong sama aku, kamu sekarang lagi nggak
baik-baik aja, denger ya orang nggak akan bisa bantu kalau kamu nggak cerita.”
Disitu sejenak
aku tersadar saat seperti ini masih ada seorang yang setia menemani mencari dan
memperdulikanku, Rama selalu ada disaat aku merasa sendiri. Aku jadi teringat
beberapa waktu lalu saat Malik mulai pergi ke Jakarta hanya ada Rama yang setia
menemaniku seakan- akan membantuku untuk melupakan kesedihanku dan sekarang
Rama pula yang ada untuk menemani saat aku merasa terjatuh untuk kedua kalinya.
Perasaanku mulai berubah kali ini aku benar-benar hanya memikirkan soal Rama,
mengapa aku bisa sampai lupa atas semua kebaikan yang telah dilakukan Rama
selama ini bahkan nyaris tidak menyadari keberadaanya.
“Fira aku kenal
kamu bukan sehari dua hari, 4 tahun sejak SMA makanya aku tau betul kamu itu
seperti apa. Sekarang terserah kamu mau ngaku apa engga yang pasti terlihat
jelas dari raut wajah kamu kalau sekarang kamu memendam banyak pikiran. Kamu
tau tujuan aku ajak kamu pergi sejauh ini untuk apa?
Aku hanya
menggelengkan kepalaku sambil melihat ke arah Rama yang saat itu terlihat
sangat dewasa berbicara kepadaku.
“Pergi sejauh
ini dengan membawa banyak masalah yang selama ini telah menjadi beban berat
buat kamu dan semua ingatan yang harus segera dibuang. Aku mau kita pergi
membawa semua itu dan meninggalkanya disana jangan kamu bawa pulang lagi,
bayangkan saat di perjalanan ini masalah pikiran dan ingatan pahit itu mulai
berjatuhan dijalan hingga tak tersisa. Sehingga saat pulang nanti kamu akan
seperti hidup kembali dari kepenatan yang selama ini mempermainkan kamu.”
“Memang pada kenyataanya tidak semudah itu melupakan
dan memulai semuanya lagi dari awal dengan semangat baru, tapi kamu harus tau
Fira ingatan itu akan selalu ada selama kamu mengijinkannya begitupun kesedihan, sedih pun akan menusuk perasaan kamu sedalam yang kamu ijinkan.”
“Rama aku paham,
terima kasih! Aku jauh lebih baik sekarang, dan akan selalu aku coba untuk
tetap selalu ceria menjalani semuanya setelah ini asal kamu selalu temani aku.”
“Setelah kita pulang nggak ada lagi Fira yang
murung yang sedih yang lemah, sekarang hanya ada Fira yang ceria yang kuat yang
selalu bersemangat. Inget Safira hidup masih panjang jangan kamu habiskan
dengan hal melow seperti itu. Kamu mau apa setelah kamu tua nanti, kamu nyesel dan ga berhenti
menertawakan diri kamu sendiri saat ini. Menangis karna cinta! HAHAHA” celoteh
Rama sambil tertawa.
Tawaku mulai
terpecah kali ini, aku mulai sadar dengan semuanya. Selama
ini aku tidak pernah membuka mataku dan memandang kehadiran Rama dengan biasa
saja. Padahal satu satunya yang selalu ada hanya Rama dan beruntung aku menyadari hal itu saat Rama
masih ada bersamaku, disampingku, dan membuatku tertawa. Aku tak bisa
membayangkan bila Rama sudah
tidak ada untuku lagi, sungguh celaka dan merugilah aku menyia-nyiakan
kehadiran seorang Rama di hidupku hanya dengan kehadiran mereka yang hanya
ingin sekedar singgah, Bari contohnya.
Terkadang kita
selalu menutup mata untuk
seseorang yang selalu ada untuk kita, kehadiranya seolah tidak pernah disadari
walau saat dia sedang mengobati luka yang ada sekalipun. Lihatlah sekeliling sebelum
kita merasa sendiri, seringkali kita tidak peka terhadap kehadiran
seseorang yang peduli terhadap kita. Karena pada kenyataanya kita tidak pernah
sendiri dihidup ini, bahkan Tuhan pun selalu ada disamping kita untuk menemani
kemanapun kita pergi.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar